KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara (Kukar) masih berupaya mencari pihak yang bersedia membantu pengelolaan Tangga Arung Square (TAS).
Hingga saat ini, pengelolaan kawasan tersebut masih dilakukan oleh Disperindag dengan dukungan Forum Pedagang Pasar dan Pedagang Kaki Lima (PKL).
Plt Kepala Disperindag Kukar, Sayyid Fathullah, menjelaskan bahwa secara kelembagaan pengelolaan pasar memang menjadi tugas dan tanggung jawab Disperindag. Tidak hanya TAS, instansinya juga mengelola sejumlah pasar lain yang tersebar di beberapa kecamatan di Kukar.
Menurutnya, terdapat enam pasar yang saat ini berada di bawah pengelolaan Disperindag Kukar, yakni Pasar Sangasanga, Pasar Wono Tirto dan Kuala Samboja, Pasar Loa Kulu, Pasar Mangkurawang, serta Tangga Arung Square di Tenggarong.
“Memang tupoksinya dalam hal ini mengelola pasar-pasar yang ada di bawah kendali Disperindag. Kita sebenarnya ada enam pasar, bukan hanya Tangga Arung Square, semuanya berada di bawah pengelolaan kita,” ujarnya beberapa waktu yang lalu.
Meski demikian, ia mengakui bahwa keterbatasan jam kerja aparatur sipil negara (ASN) menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan pasar. Aktivitas pasar yang ramai pada sore hingga malam hari, bahkan pada akhir pekan, tidak sepenuhnya dapat diakomodasi oleh petugas yang terikat aturan jam kerja.
Kondisi tersebut membuat Disperindag membutuhkan pihak pengelola yang dapat membantu mengawasi dan menjalankan operasional pasar di luar jam kerja ASN. Namun hingga kini, upaya mencari mitra pengelola belum membuahkan hasil.
“Kami tawarkan kepada berbagai pihak, siapa yang mau mengelola Tangga Arung Square silakan mengajukan permohonan dan memenuhi syarat yang ada. Tapi sampai sekarang belum ada yang menyatakan minat,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejumlah pihak seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Tuggang Parangan pernah diajak berdiskusi terkait peluang pengelolaan TAS. Namun berbagai pertimbangan membuat kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan.
Di tengah keterbatasan tersebut, Disperindag berupaya mempertahankan pengelolaan pasar dengan melibatkan forum pedagang yang selama ini aktif beraktivitas di kawasan TAS. Langkah ini dinilai menjadi solusi sementara agar aktivitas pasar tetap berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah mereka mau diajak bekerja sama untuk membantu pemerintah mengelola pasar yang semegah dan sebesar ini supaya tetap berjalan dengan baik semampu kita,” ungkapnya.
Selain menjaga aktivitas perdagangan, Disperindag juga terus mendorong TAS menjadi kawasan yang nyaman bagi masyarakat.
Kawasan tersebut telah dikembangkan sebagai pasar semi-mal yang tidak hanya menyediakan kebutuhan belanja, tetapi juga ruang hiburan, kuliner, olahraga, hingga area bermain anak.
Sementara itu, Pasar Mangkurawang difokuskan sebagai pasar subuh dan pusat kebutuhan pokok segar. Menurut Sayyid,
pembagian fungsi tersebut berhasil menciptakan karakter masing-masing pasar sehingga tidak saling bersaing secara langsung dan justru saling melengkapi kebutuhan masyarakat.
“Di Tangga Arung Square kita jadikan pasar yang nyaman untuk berbelanja, berolahraga, wisata kuliner, hiburan, dan rekreasi keluarga. Sedangkan Mangkurawang sudah kita klaster sebagai pasar subuh dan pasar segar,” pungkasnya. (ltf/fdl)










