KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, membagikan pengalamannya selama menjalani masa tahanan dalam kasus korupsi yang menjerat dirinya. Saat kembali ke Tenggarong, pada Jumat (12/6/2026), Rita mengaku banyak pelajaran hidup yang diperolehnya selama hampir sembilan tahun menjalani proses hukum dan berada di sejumlah lembaga pemasyarakatan.
Di hadapan awak media, Rita menceritakan bahwa sejak awal dirinya berharap proses pemeriksaan maupun persidangan dapat dilaksanakan di Kalimantan Timur (Kaltim). Menurutnya, berada lebih dekat dengan kampung halaman akan memberikan dukungan moral yang lebih besar dari masyarakat Kukar.
Ia mengaku pernah menyampaikan keinginannya tersebut kepada penyidik agar proses pemeriksaan dapat dilakukan di daerah asalnya. Namun, seluruh rangkaian proses hukum akhirnya tetap berlangsung di Jakarta.
“Saya bilang sama ibu penyidiknya, saya pengennya nanti kalau pemeriksaan di sini. Dulu juga saya pengennya sidang di Kaltim, karena saya merasa dekat dengan rakyat Kutai,” ujarnya.
Menurut Rita, kedekatannya dengan masyarakat Kukar menjadi salah satu alasan mengapa ia ingin menjalani proses hukum lebih dekat dengan kampung halaman.
Ia meyakini dukungan masyarakat dapat menjadi penyemangat dalam menghadapi masa-masa sulit.
Selama menjalani hukuman, Rita mengaku pernah ditempatkan di beberapa rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan. Pengalaman berpindah tempat tersebut justru membuatnya semakin banyak belajar tentang kehidupan.
“Saya mengalami tiga lapas dan rutan. Ada di Lapas KPK, Pondok Bambu, dan Tangerang. Saya jalani saja semuanya,” katanya.
Alih-alih larut dalam kesedihan, Rita memilih mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan positif. Ia menyebut olahraga menjadi salah satu aktivitas utama yang rutin dilakukan selama berada di dalam lapas.
Kebiasaan berolahraga itu bahkan membawa perubahan besar terhadap kondisi kesehatannya. Rita mengaku kini merasa lebih bugar dibandingkan saat masih aktif menjalani aktivitas sebagai kepala daerah.
“Saya bahagia saja menjalani semuanya. Saya olahraga, saya berdoa. Bahkan saya merasa sekarang lebih sehat dibandingkan dulu,” ungkapnya.
Rita menjelaskan, selama berada di lapas dirinya memiliki waktu yang lebih teratur untuk menjaga kebugaran tubuh. Jika sebelumnya aktivitas olahraga sering terabaikan karena kesibukan pekerjaan, kini olahraga justru menjadi bagian dari rutinitas hariannya.
Ia bahkan mengaku membawa berbagai perlengkapan olahraga dan mendalami sejumlah gerakan kebugaran. Menurutnya, aktivitas fisik tersebut menjadi cara untuk menjaga kesehatan sekaligus mengisi waktu secara produktif.
“Kalau sekarang saya olahraga setiap hari. Bahkan satu koper saya isinya alat olahraga. Saya belajar banyak hal dan menjaga tubuh tetap aktif,” tuturnya.
Selain berolahraga, Rita juga mengisi waktu dengan kegiatan kreatif seperti melukis dan berbagai aktivitas yang tidak melibatkan perangkat elektronik. Kegiatan tersebut menurutnya membantu menjaga kondisi mental tetap stabil selama menjalani masa hukuman.
Kini setelah kembali ke Tenggarong, Rita mengaku ingin menikmati waktu bersama keluarga dan masyarakat.
Ia menilai seluruh perjalanan yang telah dilaluinya menjadi bagian dari proses kehidupan yang harus dijalani dengan kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur.
“Yang penting saya jalani semuanya dengan berdoa dan berpikir positif. Saya bersyukur bisa melewati masa-masa itu dan sekarang bisa kembali ke kampung halaman,” pungkasnya. (ltf/fdl)








