KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Anggota Komisi DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akhmad Akbar Haka Saputra, menyoroti tantangan pengelolaan ruang publik dan pengembangan ekonomi masyarakat di Tenggarong, seiring munculnya sejumlah pusat keramaian dan destinasi wisata kuliner baru.
Menurut Akbar, perkembangan ruang publik di Tenggarong perlu diimbangi dengan pengelolaan yang mampu mempertahankan daya tarik dan kunjungan masyarakat. Karena, lokasi yang sebelumnya ramai dapat mengalami penurunan aktivitas ketika muncul ruang publik baru.
“Tantangannya kan saat ini masih banyak ruang publik dibangun. Yang satu itu sudah mulai sepi, yang satu ramai berpindah,” ujarnya pada Senin (28/9/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada keramaian ruang publik.
Karena itu, setiap pembangunan ruang publik perlu mempertimbangkan konsep, fungsi, serta daya tarik yang dapat membuat masyarakat terus berkunjung.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatiannya adalah Tangga Arung Square. Akbar menyebut kawasan tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab menurunnya tingkat keramaian serta langkah yang dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan kunjungan.
“Pembangunan ekonomi masyarakat juga menjadi tantangan, seperti yang terjadi di Pasar Tangga Arung Square,” katanya.
Menurut Akbar, evaluasi terhadap Tangga Arung Square perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk melihat prospek kawasan tersebut sebagai ruang publik sekaligus pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Prospek yang harus kita lihat di Pasar Tangga Arung Square seperti apa, penyebabnya seperti apa, dan apa yang bisa membuat Pasar Tangga Arung Square menjadi ramai. Itu juga menjadi salah satu hal yang fokus kita tangani ke depannya,” jelasnya.
Selain Tangga Arung Square, Akbar juga menyoroti bermunculannya sejumlah tempat wisata dan wisata kuliner baru di Tenggarong. Kehadiran lokasi-lokasi tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
Namun, menurutnya, pengelola destinasi wisata kuliner perlu menghadirkan konsep yang berbeda agar mampu menciptakan daya tarik lebih luas. Hal ini penting agar kunjungan tidak hanya bergantung pada masyarakat yang tinggal di Tenggarong.
Akbar mengatakan, jumlah penduduk yang menetap di Tenggarong tentu memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Kalimantan Timur. Karena itu, pengelola perlu memikirkan strategi untuk mendatangkan konsumen dari luar daerah.
Dengan konsep yang menarik dan berbeda, destinasi wisata kuliner di Tenggarong diharapkan dapat menjadi tujuan masyarakat dari daerah sekitar. Kondisi tersebut sekaligus dapat memperluas perputaran ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
“Kalau kita berharap dengan jumlah statistik anak muda atau orang yang stay di Kota Tenggarong mungkin tidak akan sebanyak kota-kota lain yang tersebar di Kalimantan Timur,” ujarnya.
Akbar berharap pengembangan ruang publik dan wisata kuliner di Tenggarong tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan strategi pengelolaan dan kemampuan menarik pengunjung dari luar daerah.
“Harapan kita ketika para pengelola tempat-tempat kuliner baru yang bermunculan di Tenggarong bisa membuat sesuatu yang berbeda, harapannya bukan hanya anak-anak muda yang ada di Tenggarong yang nongkrong, tapi bisa menarik customer atau konsumen dari luar kota sekelilingnya,” pungkasnya. (ltf/fdl)










