KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Anggota Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akhmad Akbad Haka Saputra, mendorong percepatan penyediaan tandon air dan pemasangan hidran di kawasan rawan kebakaran di Kecamatan Tenggarong.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana, khususnya di kawasan padat penduduk yang memiliki keterbatasan akses sumber air untuk pemadaman.
Dorongan itu disampaikan Akhmad Akbad Haka Saputra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan Komisi III dan Komisi IV DPRD Kukar bersama pihak terkait, pada Senin (12/10/2026).
Rapat tersebut membahas evaluasi kebakaran permukiman di kawasan Segitiga Merah, Kelurahan Melayu, sekaligus merumuskan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko kebakaran di wilayah lainnya.
Berdasarkan hasil pembahasan dan pemaparan pihak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pihak kecamatan, sejumlah kawasan telah diidentifikasi sebagai wilayah rawan kebakaran.
Di antaranya Segitiga Merah, Danau Aji, Gunung Jati, dan Jalan Alimudin yang memiliki kepadatan permukiman serta keterbatasan akses sumber air.
“Beberapa kawasan yang terindikasi rawan kebakaran, terutama Segitiga Merah, Danau Aji, Gunung Jati, dan Jalan Alimudin, ternyata sudah dimitigasi jauh-jauh hari. Kawasan tersebut padat penduduk dan tidak memiliki jalur air seperti Sungai Mahakam yang bisa dimanfaatkan secara langsung,” ujarnya.
Dalam RDP tersebut, salah satu langkah yang disepakati adalah memprioritaskan penyediaan tandon air dan pemasangan hidran di 14 titik pada kawasan yang membutuhkan penanganan.
Akbar menyebutkan, PDAM telah menyanggupi penyediaan pipa utama untuk mendukung pembangunan jaringan hidran, sehingga pelaksanaannya diharapkan dapat segera ditindaklanjuti.
Menurutnya, keberadaan hidran dan tandon air sangat penting untuk mendukung ketersediaan pasokan air saat terjadi kebakaran.
Dengan fasilitas yang ditempatkan secara strategis, petugas pemadam diharapkan dapat lebih cepat memperoleh sumber air sehingga proses penanganan kebakaran di kawasan padat penduduk menjadi lebih efektif.
Akbar menegaskan, pembangunan fasilitas tersebut tidak seharusnya hanya bergantung pada penganggaran tahun 2027. DPRD Kukar mendorong pemerintah daerah mengidentifikasi pekerjaan yang dapat dilaksanakan lebih awal melalui berbagai sumber pendanaan, termasuk anggaran pergeseran, perubahan APBD, maupun dukungan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
“Harapannya, ini bukan cuma menunggu anggaran tahun depan, tetapi langsung kita gas mana yang bisa dikerjakan secara swadaya, mana yang bisa melalui anggaran pergeseran atau perubahan, dan mana yang bisa kita tarik dari sektor swasta, terutama CSR,” tegasnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Akbad menyoroti pentingnya sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana pemasangan pipa hidran dan penempatan tandon air.
Pasalnya, dalam pembahasan RDP terungkap masih terdapat warga yang keberatan apabila fasilitas tersebut ditempatkan di sekitar rumah atau lingkungan tempat tinggal mereka.
Karena itu, ia meminta pemerintah kecamatan, kelurahan, dan forum RT melakukan pendekatan persuasif agar masyarakat memahami pentingnya sarana mitigasi kebakaran.
Koordinasi dengan warga juga diperlukan untuk menentukan lokasi pemasangan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan mudah diakses petugas ketika terjadi keadaan darurat.
Di sisi lain, Akbar turut menyoroti kebutuhan armada pemadam kebakaran di wilayah yang jauh dari pusat Kota Tenggarong. Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Desa Rapak Lambur, karena jarak tempuh armada dari Tenggarong berpotensi memperlambat penanganan ketika kebakaran terjadi.
Menurutnya, evaluasi kebutuhan armada perlu dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan dan jarak wilayah dari pos pemadam kebakaran. Ketersediaan kendaraan pemadam di wilayah tertentu diharapkan dapat mempercepat respons petugas, sekaligus mengurangi risiko api membesar sebelum bantuan tiba.
Akbar berharap hasil RDP tersebut segera ditindaklanjuti melalui langkah konkret, mulai dari pemasangan hidran dan tandon air, penguatan sosialisasi kepada masyarakat, hingga evaluasi kebutuhan armada pemadam di kawasan rawan kebakaran.
“Ini harus kerja cepat, ada aksi nyata, apalagi di daerah-daerah padat permukiman lainnya. Bukan hanya Segitiga Merah di Danau Aji, tetapi seluruh kawasan yang memang rawan kebakaran harus menjadi perhatian,” tutupnya. (ltf/fdl/adv)









