Home / Pemerintah

Rabu, 28 Januari 2026 - 21:00 WIB

Dispar Kukar Rapat Evaluasi Pemutaran Film Pendek “Erau”, Dialek Bahasa Jadi Perhatian

Rapat Evaluasi Pemutaran Film Pendek “Erau” yang diselenggarakan Dispar Kukar (Latif/Eksposisi)

Rapat Evaluasi Pemutaran Film Pendek “Erau” yang diselenggarakan Dispar Kukar (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar rapat koordinasi sekaligus penayangan film pendek”Erau” di Ruang Rapat Dispar Kukar, pada Rabu (28/1/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi awal terhadap film promosi budaya Erau sebelum dipublikasikan lebih luas. Dalam rapat ini hal yang paling disoroti yakni konsistensi penggunaan dalek atau Bahasa Kutai yang berubah-ubah di sejumlah adegan.

Sutradara film Erau 2025, Deni Satrio, menjelaskan bahwa perubahan bahasa atau dialek dalam film yang telah selesai diproduksi tidak memungkinkan dilakukan secara menyeluruh karena akan memerlukan proses produksi ulang dari awal.

“Kalau harus diulang dari awal tentu tidak mungkin. Paling hanya bisa ditambahkan subtitle,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pembuatan film pendek Erau tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp100 juta dengan durasi produksi kurang lebih dua bulan, mulai dari penyusunan naskah hingga proses penyelesaian akhir.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kaltim Soroti Pembangunan Infrastruktur Usai Kunjungan Lapangan di Kutim

“Informasinya kemungkinan akan ditonton oleh Bupati Kukar dan Sultan Kutai Kartanegara pada awal Februari,” jelasnya.

Terkait penayangan ke publik, Deni menegaskan pihaknya hanya bertindak sebagai pembuat film. Sementara kebijakan terkait distribusi dan publikasi sepenuhnya berada di bawah kewenangan Dispar Kukar.

Plt Kepala Dispar Kukar, Arianto, mengatakan rapat koordinasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait konten film, khususnya penggunaan bahasa dan dialek yang ditampilkan.

Ia menjelaskan bahwa Kukar memiliki ragam dialek bahasa Kutai yang berbeda di setiap wilayah, mulai dari hulu, tengah, hingga pesisir. Kekhasan ini dinilai penting untuk diperhatikan agar film budaya terasa lebih autentik.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kaltim Sebut Pembangunan Infrastruktur Menjadi Kunci Keberhasilan Menghadapi IKN

“Kalau pemerannya disebut berasal dari wilayah hulu, maka dialeknya juga harus konsisten menggunakan bahasa Kutai Ulu. Supaya penonton dari berbagai wilayah merasa ini memang sesuai,” jelasnya.

Menurut Arianto, perubahan dialek tanpa penjelasan dapat mengganggu alur cerita dan peran para pemeran. Karena itu, pada produksi film Erau selanjutnya, ia mendorong agar penggunaan bahasa disesuaikan dengan latar wilayah yang diangkat.

Arianto menegaskan bahwa film Erau merupakan video promosi pariwisata, bukan bersifat komersial. Oleh sebab itu, film tersebut dapat ditayangkan di berbagai media, baik platform digital maupun media luar ruang.

“Ini video promosi, jadi harusnya bisa ditayangkan di semua media, termasuk platform digital maupun videotron,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Sinergi Pemkab Kukar dan Lapas Perempuan Tenggarong Wujudkan Gerakan Literasi Bagi Warga Binaan

Pemerintah

Apel Gabungan HUT ke-54 Korpri, Pemkab Kukar Tekankan Penerapan Manajemen Talenta ASN

Advertorial

Anggota BPBD se-Indonesia Kunjungi Kukar Dalam Rangka Peringatan Pengurangan Resiko Bencana

Advertorial

Jabat Kalak BPBD Kukar yang Baru, Fida Hurasani Langsung Pimpin Apel Gelar Pasukan dan Cek Sarpras

Advertorial

Jalan Rusak Diduga Karena Tambang Batu Bara, Wakil Ketua DPRD Minta Tindak Tegas

Advertorial

BRIDA Kukar Melakukan Seminar Efektivitas Pengelolaan Sampah, 6 Kelurahan dan Desa Jadi Sampel Penelitian

Advertorial

Dinas Koperasi dan UKM Kutim Melakukan Kunjungan Studi Tiru ke Yogyakarta

Advertorial

Disdikbud Kukar Siap Gelar Festival Apresiasi Seni dan Budaya