Home / Advertorial / Pemerintah / Politik

Senin, 26 Mei 2025 - 21:47 WIB

Komisi I DPRD Kaltim Menggelar RDP Terkait Konflik Masyarakat dengan Perusahaan Batu Bara di Kukar

RDP yang digelar Komisi I DPRD Kaltim

RDP yang digelar Komisi I DPRD Kaltim

KALIMANTAN TIMUR, eksposisi.com – Komisi I DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) duduk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait konflik agrarian, pada Senin (26/5/2025).

Rapat ini membahas dugaan penyerobotan lahan milik warga oleh perusahaan tambang batu bara, PT Multi Harapan Utama (MHU), di Desa Jongkang, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar).

Fokus pertemuan mengarah pada kasus lahan milik seorang warga, Mustafa, yang kini juga sedang menghadapi proses hukum karena dilaporkan membawa senjata tajam dan menghalangi aktivitas tambang.

RDP berlangsung di Gedung E DPRD Kaltim dan dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi I, Agus Suwandy. Hadir pula anggota komisi lainnya, perwakilan Polres Kukar, BPN Kukar, pihak perusahaan, dan kelompok tani Rantau Mahakam.

Dalam rapat tersebut, Agus menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam menangani sengketa agraria. Ia menyayangkan kecenderungan penyelesaian konflik yang mengandalkan jalur hukum tanpa ruang dialog.

Baca Juga :  DPMD Menggelar FGD Terkait Upaya Pemkab Kukar Dalam Percepatan Pengakuan Masyarakat Adat

“Meski legalitas mungkin ada di tangan perusahaan, kita ingin penyelesaian yang adil dan beradab. Petani jangan langsung dianggap musuh. Ada ruang kerohiman yang seharusnya dibuka,” ujar Agus Suwandy.

Ia juga menyarankan agar laporan terhadap Mustafa dicabut demi mendorong penyelesaian damai. Menurutnya, tindakan hukum seharusnya menjadi pilihan terakhir, bukan pendekatan pertama.

Kelompok tani yang diwakili oleh Akmal menyampaikan dua tuntutan utama: pembebasan Mustafa dan ganti rugi atas kerusakan tanaman di lahan seluas sekitar 10 hektare dari total 100 hektare milik kelompok mereka.

“Kami tidak menolak keberadaan perusahaan, kami hanya ingin hak kami diakui. Tanaman kami rusak, dan Pak Mustafa ditahan karena memperjuangkan itu,” ujar Akmal.

Menanggapi hal itu, pihak PT MHU yang diwakili oleh Al-Hikmi mengklaim bahwa 95 persen lahan telah dibebaskan secara sah dan menegaskan bahwa operasi perusahaan terganggu akibat aksi Mustafa.

Baca Juga :  Disdikbud Kukar Sukses Menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu 2024

“Kami laporkan karena ada tindakan yang mengganggu keamanan. Tapi kami tetap membuka ruang restorative justice,” jelas Al-Hikmi.

Namun, pihak perusahaan mengajukan sejumlah syarat untuk mencabut laporan, di antaranya pernyataan tertulis dari Mustafa dan kelompok tani bahwa mereka tidak akan kembali mengganggu aktivitas tambang atau mengajukan tuntutan ganti rugi.

Menariknya, istri Mustafa hadir dalam rapat dan menyatakan kesiapan keluarganya untuk menempuh jalan damai dan menghormati kesepakatan yang akan dirumuskan bersama.

Di penghujung rapat, Agus Suwandy menegaskan bahwa DPRD akan mengawal proses mediasi dan memastikan kedua belah pihak mendapatkan keadilan.

“DPRD bukan penentu, tapi jembatan. Kita ingin ini tidak jadi preseden buruk di masa depan. Semoga semua pihak bisa menahan diri dan mencari solusi terbaik,” pungkasnya. (adv/dprd/kaltim)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Anggota DPRD Kaltim Mendorong Percepatan Penetapan Tarif Restribusi Hotel Atlet Samarinda

Advertorial

Wakil Ketua DPRD Kaltim Tepis Isu Penghapusan Pokir dalam Penyusunan APBD 2026

Advertorial

Menuju Titik Nol IKN, Kirab Pemuda Nusantara Dilepas Bupati Kukar

Advertorial

Pesta Karya ke-10 Garapan SMP Negeri 1 Sangatta Utara Resmi Dibuka

Pemerintah

Atasi Kekosongan Dokter di Pelosok, Pemkab Kukar akan Naikkan Insentif Melalui Revisi Perbup

Advertorial

Ketua DPRD Kutim Dukung Pengembangan Sektor Pariwisata

Advertorial

Pemkab Kukar Perkuat Inovasi Daerah, 15 Inovator Terbaik Menerima Penghargaan

Bisnis

Sidak ke Tangga Arung Square, Wakil Bupati Kukar Ancam Cabut Izin Ratusan Kios yang Tak Kunjung Dibuka