KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pegelaran Lanjong Art Festival (LAF) 2025 sukses digelar di Kampong Seni Ladaya, Tenggarong. Festival seni dua tahunan yang telah vakum selama delapan tahun ini kembali hadir dengan meriah, menghadirkan seniman lokal hingga mancanegara.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Thauhid Afrilian Noor.
Ia mengapresiasi keberhasilan pelaksanaan LAF tahun ini. Menurutnya, ragam penampilan yang dihadirkan menjadi bukti tumbuhnya seni dan budaya di Kukar.
“LAF 2025 menghadirkan pertunjukan yang sangat kompleks, mulai dari teater, musik, hingga seni teatrikal. Ini saya anggap sebagai keberhasilan yang luar biasa. Pemerintah sangat mengapresiasi dan berharap kegiatan ini terus berlanjut hingga tahun depan dengan lebih banyak penampilan,” ujarnya.
Thauhid mengatakan, tumbuhnya seni dan budaya akan ikut mendorong kemajuan suatu daerah.
“Kalau budayanya tumbuh, seninya hidup, senimannya terus berkarya, maka sebuah daerah juga akan berkembang. Semakin banyak komunitas dan kelompok seni yang bergeliat, semakin kuat pula identitas budaya kita,” tegasnya.
Sementara itu, Pembina Yayasan Lanjong, Dedy Sudarya atau yang akrab disapa Nala Arung, menyebut LAF 2025 menghadirkan tontonan yang berbeda dibanding hiburan biasa. Ia bersyukur festival ini mendapat dukungan besar dari masyarakat dan berbagai pihak.
“Saya inginkan teman-teman mendapatkan satu tontonan, satu event yang punya nilai gizi lebih dibanding tontonan biasa. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung acara ini selama enam hari penuh. Bahkan sekadar hadir saja sudah merupakan bentuk apresiasi yang tinggi bagi kesenian semacam ini,” ungkapnya.
Nala juga menegaskan, tahun ini LAF benar-benar berskala internasional dengan kualitas pertunjukan yang lebih tinggi.
“Mungkin karena sudah lama vakum, semangat para penampil jadi luar biasa. Saya lihat totalitas mereka tahun ini benar-benar istimewa,” katanya.
Ia menyampaikan, meski LAF tetap dijadwalkan berlangsung dua tahun sekali, tidak menutup kemungkinan Yayasan Lanjong akan menghadirkan program seni lain di luar agenda utama.
“Nanti tentu ada evaluasi dan diskusi. Mungkin saja ada program lain yang juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan bagus di Kukar,” pungkasnya. (adv/disdikbud/kukar)









