KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Tabuhan gendang, gong dan gemelan mengiringi ritual Merangin pada malam ketiga pelaksanaan pra-Erau Adat Kutai di Tenggarong, pada Sabtu (19/9/2026).
Bagi sebagian pengunjung, rangkaian tersebut mungkin tampak sebagai sebuah pertunjukan budaya. Namun bagi masyarakat adat, Merangin memiliki makna yang lebih dalam sebagai bagian awal dari rangkaian kegiatan Kesultanan.
Sartin, Koordinator Belian yang juga merupakan Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, menjelaskan Merangin merupakan perjalanan seorang Belian atas perintah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura untuk menyampaikan rencana Erau kepada leluhur dan makhluk ghaib.
“Merangin itu artinya kegiatan awal daripada kegiatan pelas Kesultanan atau tepung tawar Baris Aji, atau Tepung Tawar Raja,” katanya.
Dalam perjalanan tersebut terdapat sejumlah simbol, di antaranya kura-kura, batang bambu dan burung yang terbuat dari kayu. Simbol itu menggambarkan sarana perjalanan Belian melewati berbagai keadaan.
Kura-kura menjadi simbol perjalanan ketika melewati air, batang bambu menggambarkan perjalanan menuju tempat yang lebih tinggi, sementara burung menjadi simbol perjalanan di awan atau angin.
“Kalau kita berjalan di air, kalau kita ketemu sungai atau air, ikut di kura-kura itu kita untuk menyeberang. Kemudian kalau kita mau naik ke atas untuk mendapati burung itu, maka kita naik di batang bambu itu sendiri,” jelasnya.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi sarana menyampaikan rencana kegiatan Kesultanan kepada roh-roh leluhur dan makhluk ghaib yang dipercaya berada di dimensi berbeda.
Menurut Sartin, penyampaian itu juga merupakan bentuk ajakan agar mereka turut serta dalam upacara Kesultanan, sekaligus permohonan perlindungan agar rangkaian kegiatan berlangsung tanpa hal-hal yang tidak diinginkan.
Termasuk kepada para pengunjung yang belum memahami adat dan tradisi yang berlangsung.
“Pengunjung belum mengerti karena dia orang baru. Nah, sehingga itulah yang kita kasih tahu ke mereka, supaya mereka jangan terkejut dan juga jangan marah kalau ada tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat ini,” tuturnya.
Sebelum Merangin dimulai, terdapat pula ritual Titi Bende sebagai bentuk pemberitahuan kepada mereka yang dipercaya berada di alam lain bahwa kegiatan akan dilaksanakan.
Ritual tersebut berkaitan dengan suara gendang, gong dan gemelan yang mengiringi rangkaian kegiatan.
“Memberi tahu supaya dalam kegiatan ini mereka tahu, tidak terkejut kenapa ada suara gendang, paluan gong, paluan gemelan,” ujarnya.
Dalam ritual tersebut, penari laki-laki menggambarkan Belian yang menjalankan perjalanan berdasarkan perintah Kesultanan. Sementara penari perempuan berperan sebagai pasangan Belian atau disebut Dewa sekaligus saksi perjalanan tersebut.
“Yang perempuan sendiri itu sebagai pasangan daripada orang Belian itu sendiri dalam rangka ikut serta dalam perjalanan itu sendiri. Ibaratnya mereka sebagai saksi,” jelasnya.
Merangin dilaksanakan selama tiga malam dalam rangkaian pra-Erau. Kemudian memasuki tahapan Bepelas, rangkaian ritualnya berbeda, termasuk dalam pengucapan mantra.
Sartin menyebut tiga malam Merangin merupakan bagian dari pelaksanaan ritual Kesultanan, Bepuja Banten dan Tepung Tawar Kampung Ratu Baris Aji.
Dengan demikian, Merangin menjadi pintu awal menuju rangkaian kegiatan Kesultanan. Sebuah perjalanan simbolik yang membawa amanat dari dunia manusia untuk disampaikan kepada alam yang dipercaya memiliki keterhubungan dengan kehidupan masyarakat adat.
Di tengah kemeriahan Erau, setiap gerak penari bukan sekadar pertunjukan. Ada pesan, simbol dan amanat yang dibawa dalam setiap ritual. (ltf/fdl)









