Home / Bisnis / Ekonomi / Finansial

Senin, 13 April 2026 - 15:55 WIB

Harga Kedelai Melonjak, Produsen Tempe di Kukar Pilih Korbankan Keuntungan Dibanding Kehilangan Pelanggan

Lapak pedagang di Pasar Mangkurawang Tenggarong (Latif/Eksposisi)

Lapak pedagang di Pasar Mangkurawang Tenggarong (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kenaikan harga kedelai yang terjadi sejak awal 2026 tak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga mengubah cara pelaku usaha tempe mempertahankan pelanggan. Di Kutai Kartanegara (Kukar), produsen memilih menahan harga jual meski harus mengorbankan keuntungan.

Bagi sebagian pelaku usaha, menjaga daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kenaikan harga tempe dinilai berisiko menurunkan jumlah pembeli secara signifikan.

Ilham, salah satu produsen tempe di Kecamatan Tenggarong, mengatakan dirinya sengaja tidak menaikkan harga jual meski harga bahan baku terus merangkak naik. Ia lebih memilih menyesuaikan ukuran produk agar tetap terjangkau.

“Kalau harga dinaikkan, takutnya pembeli langsung berkurang. Jadi kami pertahankan harga, tapi ukuran yang disesuaikan,” ujarnya pada Senin (13/04/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi pilihan paling realistis dibanding harus kehilangan pelanggan tetap. Terlebih, tempe merupakan salah satu bahan pangan harian yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Baca Juga :  Kepala Dispora Menghadiri Sultan Sticker Pushbike Championship Piala Kapolres Kukar

Namun di balik strategi tersebut, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Ilham mengakui margin keuntungan kini jauh menurun dibandingkan kondisi normal.

“Keuntungan pasti turun. Tapi daripada tidak laku, lebih baik tetap jalan walaupun hasilnya tidak sebesar dulu,” katanya.

Kenaikan harga kedelai sendiri disebut terjadi bertahap sejak Januari 2026. Dari kisaran Rp500 ribu per karung, kini harga sudah menembus sekitar Rp575 ribu, bahkan bisa lebih tinggi untuk pembelian dalam jumlah kecil.

“Kalau beli sedikit, harganya bisa lebih mahal lagi. Ini yang paling terasa untuk usaha kecil,” katanya.

Situasi ini juga membuat pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengatur produksi. Meski kapasitas produksi masih relatif sama, efisiensi menjadi kunci agar usaha tetap bertahan.

Dalam sehari, Ilham mengaku masih mampu memproduksi tempe dari sekitar 50 kilogram kedelai. Namun, hasil penjualan tidak lagi memberikan keuntungan optimal seperti sebelumnya.

Baca Juga :  PT MHU Meraih Penghargaan Anugerah Tata Bandha Energi 2023 dari Kementerian ESDM

Di sisi lain, harga tempe di pasaran saat ini masih berkisar antara Rp5.000 hingga Rp15.000, tergantung ukuran dan kualitas. Rentang harga tersebut diupayakan tetap stabil agar tidak memberatkan konsumen.

Fenomena mengecilkan ukuran tanpa menaikkan harga ini pun mulai menjadi pola umum di kalangan produsen tempe lokal. Langkah tersebut dianggap sebagai bentuk kompromi antara pelaku usaha dan daya beli masyarakat.

Meski demikian, para pelaku usaha berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Mereka menilai kestabilan harga kedelai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil.

“Harapan kami harga bisa lebih stabil. Supaya usaha kecil seperti kami tidak terus tertekan dan bisa kembali normal,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Bisnis

Ketua DPRD Kukar Sebut Kebijakan Pemerintah Pusat Soal Pemangkasan Produksi Batu Bara Dapat Memicu PHK Massal

Bisnis

Tingkatkan Jangkauan Pasar, Rumah Cokelat Lung Anai Binaan PT MHU Raih Sertifikasi Halal

Bisnis

Order Menurun Saat Ramadan, Driver Ojol di Kukar Putar Otak Agar Penghasilan Tetap Stabil

Bisnis

Bertemu Forum Pedagang, Bupati Kukar Tinjau Kesiapan Operasional Pasar Tangga Arung

Ekonomi

Januari 2026 Distransnaker Kukar Terima 15 Laporan PHK, Mayoritas Kasus Diselesaikan Melalui Jalur Mediasi

Advertorial

Kukar Idaman Terbaik Fokus Bangun Nelayan Tangguh, Bantuan Produksi Hingga Infrastruktur Diperkuat

Bisnis

KUPP Kuala Samboja dan APBMI Gelar Pelatihan Aplikasi Stevedor untuk Digitalisasi Pelabuhan

Bisnis

Rencana Penggusuran Pedagang Warung Panjang di Tahura Bukit Soeharto Ditunda