KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong pengembangan potensi sumber daya alam lokal melalui hilirisasi komoditas unggulan.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengungkapkan, saat ini komoditas keratom dari Kukar sudah memiliki pasar ekspor, khususnya ke India. Namun, nilai jualnya dinilai masih belum optimal karena masih dalam bentuk bahan mentah.
Pemerintah daerah melihat peluang besar jika komoditas tersebut diolah lebih lanjut menjadi produk ekstrak.
“Keratom ini sebenarnya punya nilai yang jauh lebih tinggi ketika sudah diolah menjadi ekstrak, bukan lagi dalam bentuk bahan mentah,” ujarnya.
Selain keratom, Pemkab Kukar juga mengidentifikasi sejumlah tanaman khas daerah lainnya, seperti teratai, yang memiliki nilai ekonomis tinggi di pasar internasional. Potensi ini dinilai perlu dikelola secara serius agar dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah.
“Tidak hanya keratom, ada juga tanaman khas seperti teratai yang punya nilai tinggi ketika sudah dalam bentuk ekstrak,” katanya.
Dalam upaya pengembangan tersebut, Pemkab Kukar berkolaborasi dengan kalangan akademisi, dari Fakultas Farmasi dan Kehutanan Universitas Mulawarman, guna memastikan pengolahan komoditas berjalan secara ilmiah dan berkelanjutan.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sumber daya lokal. Dengan keterlibatan berbagai pihak, diharapkan proses hilirisasi dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat luas.
“Ini bukan hanya melibatkan badan usaha, tetapi juga akademisi agar pengembangannya bisa berjalan dengan baik dan terarah,” jelasnya.
Aulia menegaskan bahwa tujuan utama dari pengembangan ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan komoditas bernilai tinggi yang dimiliki daerah.
“Harapan kita, bahan baku yang ada di Kukar ini bisa kita olah sehingga memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Kukar menargetkan penyelesaian studi kelayakan (feasibility study) pada tahun 2026. Studi ini akan menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan industri hilirisasi komoditas tersebut.
“Tahun ini target kita feasibility study selesai, dan tahun depan kita sudah bisa masuk ke tahap pengadaan mesin,” pungkasnya. (ltf/fdl)










