KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mematangkan program satu rumah tangga satu sarjana sebagai upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan pemerintah daerah saat ini sedang melakukan pembenahan dan sinkronisasi data calon penerima program tersebut. Pendataan mencakup masyarakat yang telah maupun sedang menempuh pendidikan tinggi dengan dukungan pembiayaan dari pemerintah.
Menurut Sunggono, proses tersebut juga akan memperhatikan status sosial ekonomi masyarakat berdasarkan data desil. Pemerintah ingin memastikan program pendidikan yang diberikan dapat tepat sasaran dan menjangkau keluarga yang membutuhkan.
“Iya, itu nanti kita sedang merapikan datanya, dari yang sudah kuliah saat ini, yang sudah dibiayai saat ini, yang sudah mendapat beasiswa dengan status warga kita yang ada di desil 1 dan desil 5,” ujar Sunggono, pada Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, perapian data menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program satu rumah tangga satu sarjana. Dengan data yang lebih terstruktur, pemerintah daerah dapat memetakan keluarga yang telah memiliki anggota keluarga berstatus mahasiswa maupun yang masih membutuhkan dukungan pendidikan.
Selain program pendidikan tinggi, Pemkab Kukar juga sedang memformulasikan program building school atau sekolah berasrama yang direncanakan dapat dikembangkan di tingkat kecamatan.
Sunggono mengatakan, program tersebut diproyeksikan menjadi salah satu solusi jangka menengah untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak Kukar yang membutuhkan dukungan lebih besar dalam memperoleh pendidikan.
“Ya, itu di antaranya akan kita formulasikan untuk kita pastikan menjadi bagian dari solusi jangka menengah,” jelasnya.
Menurutnya, rencana tersebut juga akan diselaraskan dengan kebijakan pemerintah pusat yang saat ini mengembangkan program Sekolah Rakyat. Sinkronisasi dilakukan agar program pendidikan yang disiapkan Pemkab Kukar dapat berjalan searah dengan kebijakan nasional.
“Karena kan saat ini juga pemerintah pusat melalui program Sekolah Rakyat juga ke sana arahnya. Jadi itu sedang kita sinkronisasi programnya,” katanya.
Sunggono berharap, melalui sinkronisasi tersebut, anak-anak Kukar yang memiliki keterbatasan akses pendidikan dapat memperoleh tempat belajar yang memadai.
Konsep sekolah berasrama dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memastikan mereka tetap mendapatkan pendidikan secara layak.
“Mudah-mudahan nanti anak-anak Kutai Kartanegara bisa homeschooling dengan cara yang memungkinkan mereka tertampung semuanya,” pungkasnya. (ltf/fdl)









