Home / Bisnis / Peristiwa

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Perumda Tirta Mahakam Waspadai Dampak Kemarau, Air Sungai Surut Bisa Pengaruhi Pelayanan

Suparno - Direktur Perumda Tirta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara (Latif/Eksposisi)

Suparno - Direktur Perumda Tirta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai berdampak terhadap operasional Perumda Tirta Mahakam sebagai penyedia layanan air bersih bagi masyarakat.

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Kukar, Suparno, mengatakan kondisi air permukaan Sungai Mahakam yang semakin surut menjadi salah satu perhatian utama pihaknya. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sejumlah intake apabila kemarau berlangsung lebih panjang dan tidak segera turun hujan.

“Kalau saat ini memang lagi musim kemarau, air permukaan Mahakam pertama kan surut. Tentunya kami dari PDAM sangat berharap ini segera turun hujan,” ujarnya pada Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG, hujan diperkirakan baru kembali turun sekitar September mendatang. Karena itu, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

Suparno menjelaskan, salah satu persoalan yang mulai dihadapi adalah tingginya sedimentasi dan pendangkalan di sejumlah titik intake. Jika kondisi tersebut terus terjadi tanpa adanya hujan, dikhawatirkan beberapa intake tidak lagi mampu menghisap air baku.

“Pertama sedimen, artinya kemungkinan surutnya air Mahakam yang ada di permukaan. Ini hal-hal yang memang harus kita antisipasi bagaimana upaya kita untuk tetap melanjutkan atau memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain pendangkalan, Perumda Tirta Mahakam juga mewaspadai masuknya intrusi air laut ke wilayah perairan Mahakam. Bahkan, Kecamatan Anggana menjadi salah satu wilayah yang paling dikhawatirkan terdampak apabila intrusi air laut semakin jauh masuk ke hulu.

Baca Juga :  Dispora dan Kwarcab Pramuka Kukar akan Menggelar Lomba Ketangkasan Pemadam Kebakaran

Suparno menyebut, jika kadar garam air baku melebihi batas yang dapat diolah, pihaknya terpaksa menghentikan produksi demi menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat.

“Kalau memang sudah masuk intrusi air laut ke Kecamatan Anggana, mau tidak mau kami akan off, tidak bisa memproduksi. Karena hanya 200 ppm ke bawah yang bisa diolah menjadi air baku. Kalau kadar garamnya di atas itu, kami khawatir kualitasnya membahayakan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, kondisi serupa juga menjadi perhatian untuk wilayah Sanga-Sanga. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki karakteristik tersendiri karena ketika air laut masuk ke sungai, proses keluarnya kembali relatif lama dan sangat bergantung pada tingginya curah hujan di wilayah hulu.

Meski demikian, Suparno memastikan kondisi kemarau saat ini tidak serta-merta menyebabkan penurunan kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan. Dampak yang lebih terasa adalah penurunan debit pelayanan di sejumlah wilayah.

“Kalau kualitas enggak, cuma memang terkadang penurunan debit diakibatkan dari itu. Artinya seperti Loa Kulu yang sudah berdampak, sempat tidak beroperasi. Masyarakat pasti bertanya kenapa tidak kontinu,” katanya.

Untuk mengantisipasi gangguan pelayanan, Perumda Tirta Mahakam mengimbau masyarakat agar mulai menyiapkan tempat penampungan atau tandon air di rumah. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat masih memiliki cadangan air ketika pelayanan mengalami gangguan sementara.

Suparno menegaskan, apabila terjadi pengurangan debit atau gangguan pelayanan, hal tersebut bukan merupakan kesengajaan dari Perumda Tirta Mahakam. Kondisi tersebut semata-mata disebabkan keadaan air baku yang sedang surut.

Baca Juga :  Kades di Kutim Dintruksikan Susun APBDes Pro Pembangunan yang Bermanfaat Bagi Masyarakat

“Tidak ada kesengajaan dari PDAM untuk mengurangi kualitas layanan atau debit layanan. Kami sangat mengharapkan masyarakat menampung air di rumah masing-masing dan bijak atau berhemat dalam menggunakan air,” tegasnya.

Dalam jangka panjang, Perumda Tirta Mahakam juga mulai memikirkan alternatif sumber air baku untuk mengantisipasi kemungkinan kemarau ekstrem kembali terjadi. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pemanfaatan beberapa eksploitasian tambang atau pit yang memiliki potensi menjadi sumber air baku.

Suparno mencontohkan, pihaknya telah memanfaatkan salah satu pit milik PT MSJ di Desa Bukit Pariaman sebagai sumber air baku karena wilayah tersebut tidak memiliki sumber air permukaan yang memadai.

“Antisipasi kita, tetap yang menjadi andalan kita adalah Sungai Mahakam sebagai sumber air baku. Yang kedua mungkin nanti ada beberapa eksploitasi tambang yang bisa kita gunakan menjadi alternatif jika terjadi kekeringan atau kemarau yang panjang,” terangnya.

Di tengah kondisi tersebut, Suparno berharap hujan segera turun, khususnya di wilayah hulu Sungai Mahakam. Sebab, hujan di kawasan hulu dinilai sangat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan kembali debit air yang mengalir ke wilayah hilir.

“Kami sangat-sangat berdoa semoga segera turun hujan di wilayah hulu. Yang kami harapkan justru dari hulu hujannya, karena kita di hilir,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Bisnis

Anggota DPRD Kukar Dukung Penertiban Kawasan Tahura Bukit Soeharto, Tanpa Mengabaikan Ekonomi Warga

Bisnis

Satgas Pangan Sidak Pasar Mangkurawang, Harga Bahan Pokok di Kukar Stabil

Bisnis

Stok Elpiji Nasional Disebut Cukup, Agen di Kukar Pastikan Pasokan Masuk Setiap Hari

Bisnis

Warga Timbau Tolak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Lapangan Sepak Bola

Bisnis

Pemprov Kaltara Belajar Pengelolaan dan Pengembangan Kratom ke Kukar

Bisnis

Prioritaskan Profesionalisme, 224 Anggota Koperasi TKBM Karya Sejahtera Tersertifikasi

Bisnis

Technician Education Can Fuel Financial Success

Bisnis

115 Unit Koperasi Desa Merah Putih Dibangun di Kukar, Kesiapan SDM Penting untuk Keberhasilan Program