KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah, mengatakan hingga Jumat (28/8/2026), tercatat sebanyak 3.639 kasus ISPA di seluruh wilayah Kukar. Angka tersebut meningkat sekitar 27 persen jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada Juli yang tercatat sebanyak 2.865 kasus.
“Dari angka bulan Juli, sekitar 27 persen, dari 2.865 ke 3.639 per hari ini,” ujarnya saat ditemui di kantornya, pada Jumat (28/08/2026).
Meski mengalami peningkatan, Ismi menilai kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai lonjakan yang drastis. Berdasarkan grafik perkembangan kasus yang dipantau Dinkes Kukar, peningkatan masih terlihat landai.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA juga belum dapat secara langsung dikaitkan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang panas selama musim kemarau dinilai turut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi meningkatnya kasus gangguan kesehatan tersebut.
“Memang ada peningkatan, tapi kalau kita bilang drastis, kalau kita lihat grafik juga bukan yang meningkat tajam, masih landai. Sebenarnya mungkin juga bukan karena asap karhutla, tapi karena memang panas, cuaca yang cukup panas,” jelasnya.
Dinkes Kukar mencatat sejumlah wilayah yang menunjukkan kasus ISPA relatif tinggi. Di antaranya wilayah Tenggarong, khususnya Loa Ipuh, kemudian kawasan pesisir seperti Samboja dan Muara Jawa, serta Kota Bangun dan Sebulu.
Sementara itu, peningkatan kasus di sejumlah wilayah lainnya belum menunjukkan angka yang signifikan. Untuk wilayah Sanga-Sanga, termasuk Desa Pendingin, misalnya, meski kondisi kabut asap di kawasan tersebut dilaporkan cukup tebal, data kasus yang diterima Dinkes belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
“Kalau per desa saya belum bisa. Kalau per desa datanya di puskesmas. Sanga-Sanga sejauh ini juga tidak signifikan per hari ini laporannya,” ungkapnya.
Selain ISPA, Dinkes Kukar juga memantau dua penyakit lain yang berpotensi meningkat selama musim kemarau dan kondisi kabut asap, yakni diare serta konjungtivitis atau gangguan pada mata.
Dari ketiga penyakit tersebut, ISPA menjadi kasus yang mengalami peningkatan paling signifikan. Untuk diare, jumlah kasus pada Juli tercatat sebanyak 724 kasus, sementara hingga 24 Agustus 2026 telah mencapai 1.869 kasus.
Ismi mengatakan kondisi cuaca panas dan kemarau juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi meningkatnya kasus diare. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan asupan cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
“Kalau diare, kita tetap menjaga asupan cairan. Karena sudah panas, kena di hari yang panas, itu harus juga asupan cairan,” katanya.
Terkait peningkatan ISPA dan kondisi kabut asap di sejumlah wilayah, Dinkes Kukar hingga saat ini belum berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk memberikan rekomendasi perubahan kegiatan belajar mengajar.
Ismi mengatakan langkah tersebut baru akan dipertimbangkan apabila perkembangan kasus kesehatan menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
Dengan kondisi kasus yang saat ini masih menunjukkan peningkatan landai, Dinkes belum mengeluarkan rekomendasi seperti meliburkan siswa atau melakukan perubahan terhadap aktivitas pembelajaran di sekolah.
“Sejauh ini saya belum berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Jadi mungkin belum memberikan rekomendasi perubahan signifikan, misalnya meliburkan anak sekolah atau apa, kita belum sampai ke situ,” jelasnya.
Meski demikian, Ismi membuka kemungkinan adanya pembahasan bersama Disdikbud apabila kondisi kabut asap dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat semakin meningkat.
Di tengah meningkatnya sejumlah kasus penyakit yang berpotensi berkaitan dengan kondisi kemarau, Dinkes Kukar memastikan fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas, masih mampu menangani pasien.
Menurut Ismi, ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai di fasilitas kesehatan masih dalam kondisi siap.
“Semua sudah ready, obat dan bahan habis pakai rumah sakit, puskesmas sudah. Sejauh ini fasilitas kesehatan yang ada di Kukar, baik rumah sakit maupun puskesmas, masih mampu menangani,” pungkasnya. (ltf/fdl)










