KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) selama pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 disebut telah mencapai sekitar 700 ribu pengunjung.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pendataan dan survei kunjungan belum dilakukan secara keseluruhan, dan rangkaian Erau Adat Kutai 2026 masih berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengatakan tingginya jumlah kunjungan selama pelaksanaan Erau menjadi salah satu dampak dari penyelenggaraan kegiatan budaya yang rutin digelar di Kukar.
Menurutnya, angka sekitar 700 ribu pengunjung tersebut juga dapat menjadi data pendukung dalam pengembangan sektor pariwisata Kukar, termasuk berkaitan dengan Karisma Event Nusantara (KEN).
“KEN, Karisma Event Nusantara, mudah-mudahan dari data yang ada itu men-support daripada data evidence daripada kebutuhan KEN,” ujar Heriansyah pada Sabtu (26/09/2026).
Ia menyebut jumlah kunjungan tersebut masih bersifat sementara. Sebab, pendataan terakhir belum dilakukan setelah seluruh rangkaian kegiatan Erau selesai dilaksanakan.
“Selama Erau yang mendongkrak itu posisinya di Erau. Nanti kan bisa lebih bertambah lagi, karena posisi terakhir belum dilakukan survei. Seperti ada potensi lebih dari 700 ribu,” jelasnya.
Heriansyah menilai tingginya kunjungan wisatawan selama Erau tidak hanya memberikan dampak terhadap sektor pariwisata, tetapi juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Salah satu sektor yang menurutnya mengalami perkembangan adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Aktivitas masyarakat dan wisatawan selama rangkaian Erau turut meningkatkan perputaran ekonomi di sekitar lokasi kegiatan.
“Alhamdulillah perputaran UMKM juga saya lihat perkembangannya luar biasa,” ungkapnya.
Menurut Heriansyah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budaya memiliki potensi untuk memberikan dampak yang lebih luas apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Ia berharap penyelenggaraan Erau tidak hanya dipandang sebagai sebuah pagelaran budaya tahunan, tetapi dapat membentuk ekosistem budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Artinya dengan keadaan budaya ini, menurut harapan kita itu sebenarnya ingin menciptakan ekosistem budaya,” katanya.

Dalam ekosistem tersebut, keberadaan kegiatan budaya diharapkan mampu menciptakan ruang bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari penyelenggaraan kegiatan.
Heriansyah mengatakan masyarakat juga perlu merasa memiliki kebudayaan yang berkembang di daerahnya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ekosistem budaya itu di mana pagelaran itu tidak hanya sebuah pagelaran, tetapi bisa memberikan efek yang luar biasa terhadap masyarakat kita,” tuturnya.
Ia berharap momentum Erau dapat terus dimanfaatkan untuk memperkuat keterkaitan antara budaya, pariwisata dan perekonomian masyarakat Kukar.
“Dan masyarakat kita merasa memiliki budaya ini sebagai sesuatu yang bisa memberikan dampak kesejahteraan ke depannya. Itu yang kita harapkan,” pungkasnya. (ltf/fdl/adv)









