KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akhmad Akbar Haka Saputra, mengingatkan generasi muda agar tetap mempertahankan jati diri dan identitas budaya Kutai di tengah perkembangan modernitas yang semakin pesat.
Menurut Akbar, perkembangan teknologi dan dunia usaha saat ini memberikan banyak peluang bagi anak muda, termasuk di Tenggarong. Namun, perkembangan tersebut perlu berjalan seimbang dengan pelestarian budaya dan adat istiadat daerah.
“Harmonisasi antara budaya, adat istiadat, tidak menghilangkan jati diri kita sebagai anak muda Kutai Kartanegara, khususnya anak muda di Tenggarong dengan modernitas,” ujarnya pada Senin (28/9/2026).
Ia mengatakan, perkembangan teknologi yang semakin pesat turut mendorong tumbuhnya entrepreneurship di Tenggarong.
Hal tersebut terlihat dari bermunculannya berbagai coffee shop dan tempat nongkrong yang menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
Meski demikian, Akbar menilai modernisasi tidak seharusnya membuat generasi muda melupakan identitas daerah. Nilai adat, budaya, dan sejarah Kutai tetap perlu menjadi bagian dari kehidupan generasi muda di tengah perubahan zaman.
“Selain kita dipacu oleh teknologi yang berkembang pesat, entrepreneurship juga berkembang pesat, di mana muncul banyak coffee shop dan tempat nongkrong anak-anak muda yang ada di Tenggarong,” katanya.
Menurutnya, identitas sebagai anak muda Kutai harus tetap dipertahankan agar tidak hilang atau tergerus perkembangan zaman. Budaya dan adat istiadat juga dinilai menjadi kekayaan yang dapat menjadi kekuatan bagi perkembangan Tenggarong.
Akbar turut menekankan pentingnya memperkuat kembali marwah Tenggarong sebagai Kota Raja. Identitas tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, adat, budaya, serta keberadaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Memang yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana caranya identitas kita atau marwah kita sebagai Kota Raja itu memang patut kita dorong lebih tinggi,” tegasnya.
Ia menilai momentum HUT ke-244 Kota Tenggarong dapat menjadi pijakan untuk memperkuat identitas tersebut. Modernisasi tetap dapat berkembang, tetapi karakter Tenggarong sebagai kota sejarah dan budaya harus tetap dipertahankan.
Menurut Akbar, Tenggarong memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai kota wisata berbasis budaya dan sejarah.
Panjangnya sejarah Kutai, adat istiadat, serta keberadaan istana dan berbagai warisan budaya menjadi daya tarik yang perlu terus diperkenalkan.
Ia berharap perkembangan Tenggarong ke depan tetap menghadirkan keseimbangan antara modernitas dan pelestarian budaya, sehingga kota tersebut dapat menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat sekaligus menarik bagi wisatawan.
“244 tahun ini adalah bagaimana kita menetapkan fondasi bahwa kita harus tetap membuat Tenggarong menjadi Kota Raja, kota yang nyaman untuk wisata dan budaya, kota yang panjang sejarah adat dan istana budayanya,” pungkasnya. (ltf/fdl)










