KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budiyanto, meminta pemerintah untuk segera menangani fasilitas kereta gantung yang menjadi akses utama warga di RT 9 Dusun Damai, Desa Santan Ulu.
Menurutnya, hingga kini masyarakat masih mengandalkan sarana tersebut untuk beraktivitas, terutama anak-anak yang berangkat ke sekolah.
Heri mengatakan persoalan tersebut sebenarnya telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah. Bahkan, pada masa pemerintahan sebelumnya, lokasi tersebut sempat mendapat perhatian dan dikunjungi langsung oleh bupati.
“Intinya kan ke kabupaten pernah dikunjungi oleh bupati sebelumnya. Itu ya mau dikondisikan, tapi ya kembali karena jabatan beliau sudah berakhir mungkin ya. Sekarang kan sudah ganti bupati wilayah Kukar ini,” ujar Heri Budiyantopada Jumat (17/07/2026).
Selain itu, ia menyebut pihak Kecamatan Marangkayu juga telah melakukan peninjauan ke lokasi. Pemerintah desa pun berupaya mengusulkan pembangunan jembatan melalui program pemerintah pusat, namun hingga kini belum memperoleh tindak lanjut.
“Sudah dua kali dikunjungi camat dan pihak kecamatan. Terus saya usulkan juga di program pusat, istilahnya untuk jembatan itu yang kemarin programnya Pak Prabowo, tapi belum ada respons semuanya,” katanya.
Menurut Heri, salah satu kendala yang kerap disampaikan berkaitan dengan status lahan di lokasi tersebut. Kawasan itu disebut-sebut masuk dalam kawasan hutan lindung atau kawasan budidaya kehutanan sehingga menjadi pertimbangan dalam pembangunan infrastruktur permanen.
Meski demikian, ia berharap persoalan status lahan tidak mengesampingkan kebutuhan masyarakat terhadap akses yang aman. Baginya, keselamatan dan kepentingan warga harus menjadi prioritas utama.
“Kalau kami melihat kemanusiaannya, kita bukan melihat di mana status lahannya. Intinya masyarakat membutuhkan akses yang aman,” tegasnya.
Saat ini warga masih menggunakan kereta gantung sederhana dengan lebar sekitar 1,2 meter untuk menyeberangi sungai yang memiliki bentang sekitar 30 hingga 50 meter. Fasilitas tersebut menjadi satu-satunya akses bagi sebagian masyarakat di RT 9 Dusun Damai.
Heri menjelaskan kereta gantung itu digunakan oleh warga yang bermukim di seberang sungai, termasuk anak-anak yang setiap hari melintas menuju sekolah. Di kawasan tersebut juga terdapat sejumlah kepala keluarga yang bergantung pada akses tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Yang paling mengandalkan kereta gantung itu anak sekolah. Di situ juga ada beberapa rumah dan beberapa kepala keluarga yang setiap hari menggunakan akses itu,” ungkapnya.
Meski berada dalam satu wilayah Desa Santan Ulu, akses tersebut melayani permukiman yang terpisah oleh sungai sehingga keberadaan jembatan dinilai sangat mendesak.
Heri berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat segera memberikan solusi agar masyarakat tidak lagi bergantung pada kereta gantung yang dinilai memiliki risiko keselamatan.
“Harapan kami semoga ada penanganan yang secepatnya,” pungkasnya. (ltf/fdl)









