KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah melalui kolaborasi lintas sektor dan inovasi berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi Optimasilasi Penyelamatan Pangan, pada Selasa (11/11/2025).
Sunggono menekankan pentingnya kegiatan seperti ini karena dinilai memiliki nilai tambah yang besar bagi masyarakat. Ia menyebut, kegiatan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan wadah untuk menyusun langkah kerja yang nyata dan terarah.
“Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Kalau dalam istilah merdeka, kegiatan semacam ini disebut kegiatan dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibanding kegiatan lainnya,” ucap Sunggono.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan program pangan terletak pada perencanaan yang disusun secara mandiri oleh organisasi, bukan oleh pihak luar. Dengan demikian, setiap kebijakan yang dijalankan akan lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.
“Kalau kita menikmati acara ini, sebenarnya yang paling utama adalah memastikan rencana kerja disusun dengan baik. Rencana itu tidak boleh disusun oleh pihak luar, melainkan oleh organisasi sendiri. Kepala bidang dan pejabat fungsional harus berperan memberikan masukan dan pendapat terhadap apa yang akan disusun dalam rencana tersebut,” tegasnya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap upaya Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, yang dinilainya mampu menata arah kebijakan pangan secara holistik dan berimbang.
“Yang menurut saya memberikan dampak luas adalah bagaimana Pak Ananias mencoba menata kegiatan ini menjadi sesuatu yang, menurut saya, cantik. Cantik di sini artinya beliau mampu melihat bahwa di satu sisi ada kecenderungan kelebihan produksi pangan, sementara di sisi lain ada kerentanan pangan di beberapa desa,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Pemkab Kukar berpotensi besar mengatasi persoalan pangan secara menyeluruh, termasuk pengendalian inflasi dan penanganan daerah rentan pangan.
“Ini penting, karena tahun depan, tahun 2026, akan ada program yang tidak biasa, program yang tidak umum dilakukan, dan alhamdulillah Pak Bupati serta teman-teman di Dinas juga semangat mendukung. Salah satu langkahnya adalah menghindari kemungkinan kerawanan pangan serta dampak inflasi akibat kebijakan MBG ini,” jelasnya.
Ia juga menyinggung rencana pembangunan lebih dari 50 kandang ayam sebagai bagian dari penguatan ketersediaan pangan berbasis lokal. Langkah ini diharapkan dapat menekan fluktuasi harga pangan, khususnya telur yang sempat mengalami kenaikan signifikan.
“Waktu itu sempat viral di TikTok, karena harga telur naik disebabkan suplai terbatas. Ini juga sempat dibahas dengan tim Satgas MBG, yang memiliki dapur umum di Satuan Pelayanan Gizi atau Dapur MBG di Tenggarong mampu melayani hingga 3.000 porsi per hari, walaupun sempat turun menjadi 2.000–3.000 porsi,” tuturnya.
Menurutnya, tingginya harga bahan pangan seperti telur yang mencapai Rp35.000 hingga Rp50.000 per kilogram menjadi perhatian serius pemerintah. Namun, ia optimistis, melalui strategi dan inovasi yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan, kondisi tersebut dapat dikendalikan.
“Harga bahan pangan memang masih cukup tinggi, tapi alhamdulillah dengan adanya strategi dan inovasi Pak Ananias, semangat untuk menciptakan ketahanan pangan tetap terjaga, khususnya bagi desa-desa yang rentan rawan pangan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan pangan berlebih, termasuk makanan yang tidak habis dari anak sekolah. Ia mengajak kelompok wanita tani dan dapur umum agar berperan aktif dalam pengolahan dan distribusi bahan pangan tersebut.
“Kemarin saya sempat berusaha mencari solusi dan ternyata setiap hari ada kelebihan makanan, terutama dari anak-anak sekolah yang tidak habis makanannya. Di sinilah peran teman-teman kelompok wanita tani dan dapur umum sangat penting,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan pesan ringan namun bermakna tentang pentingnya memilih bahan pangan yang sesuai kebutuhan dan kondisi daerah.
“Beberapa bentuk bantuan pangan berasal dari bahan kering, ada juga dalam bentuk lauk seperti ikan kering. Namun, ikan yang dibudidayakan sebaiknya ikan patin, bukan ikan emas atau nila,” pungkasnya. (adv/prokom/kukar)










