KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kebakaran terjadi di Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, pada Sabtu (30/5/2026) sore. Dalam peristiwa ini sebuah rumah milik Syarif hangus terbakar.
Lalapan api menghanguskan sebagian besar bangunan beserta barang-barang yang berada di dalam rumah.
Syarif, mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena api muncul dan membesar dalam waktu singkat. Saat kejadian, dirinya baru keluar dari kamar mandi ketika melihat kobaran api telah menjalar di bagian plafon ruang tengah.
“Saya keluar dari kamar mandi, api sudah menggulung di atas plafon ruang tengah. Setelah itu cepat sekali membesar dan tidak sempat menyelamatkan apa-apa,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar), Fida Hurasani, mengatakan laporan kebakaran diterima sekitar pukul 16.10 WITA. Setelah menerima informasi tersebut, sejumlah armada langsung bergerak menuju lokasi kejadian.
“Begitu laporan masuk, kami langsung mengerahkan lima unit armada dari Pos Loa Tebu, Pos Patimura, serta dukungan dari markas komando untuk melakukan pemadaman,” ujarnya.
Menurut Fida, petugas dari Pos Loa Tebu menjadi yang pertama tiba di lokasi. Saat itu kondisi api sudah cukup besar dan menguasai sebagian bangunan rumah, sehingga diperlukan strategi pemadaman untuk menurunkan intensitas kobaran terlebih dahulu.
“Ketika anggota tiba, api sudah membesar. Petugas langsung menggunakan monitor atas untuk menekan kobaran api, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan menggunakan selang dari bawah,” jelasnya.
Respons cepat petugas pemadam kebakaran berhasil mencegah kobaran api meluas ke bangunan lain.
Namun demikian, Fida menilai keterlambatan pelaporan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingkat kerusakan rumah cukup tinggi. Saat petugas tiba, api telah berkembang pesat dan sulit dicegah agar tidak menghanguskan sebagian besar bangunan.
“Kalau laporan masuk lebih awal, kemungkinan kerusakan bisa ditekan sekitar 40 sampai 50 persen. Karena saat itu tidak ada hambatan di lapangan, termasuk kemacetan,” katanya.
Selain keterlambatan laporan, material bangunan juga menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api. Rumah tersebut banyak menggunakan kayu ulin dan plywood yang mudah menghantarkan panas ketika terbakar.
Fida mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran, terutama memasuki musim kemarau. Ia juga meminta warga rutin memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah guna mencegah terjadinya korsleting yang kerap menjadi penyebab utama kebakaran.
“Banyak kasus kebakaran terjadi karena jaringan listrik yang sudah tua atau rusak tanpa disadari pemilik rumah. Karena itu, pemeriksaan instalasi listrik perlu dilakukan secara berkala,” pungkasnya.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, sementara kerugian materi diperkirakan mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta, termasuk bangunan rumah dan berbagai barang berharga yang hangus terbakar. (ltf/fdl)







