KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat pembangunan desa berbasis data melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) tahun 2026.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, saat menghadiri pencanangan Desa Cantik 2026 di BPU Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, pada Rabu (13/05/2026).
Pada kegiatan itu, tiga desa ditetapkan sebagai perwakilan Kukar dalam program Desa Cantik Tahun 2026, yakni Desa Sumber Sari, Desa Loa Kulu Kota, dan Desa Ponoragan.
Ketiganya dinilai memiliki kemampuan dalam pengelolaan serta pemanfaatan data untuk mendukung pembangunan desa.
Aulia menegaskan bahwa program Desa Cantik merupakan bagian dari transformasi tata kelola pemerintahan desa yang mengedepankan data sebagai dasar pengambilan kebijakan. Menurutnya, pembangunan akan berjalan lebih efektif apabila disusun berdasarkan data yang akurat dan terukur.
“Dan ini merupakan transformasi desa berbasis data,” ujarnya.
Ia mengaku bangga melihat kualitas aparatur desa yang dinilai mulai memahami pentingnya pengelolaan data dalam pembangunan wilayah. Menurutnya, kemampuan tersebut terlihat dari paparan Kepala Desa Loa Kulu Kota terkait perubahan kondisi lingkungan di wilayahnya.
“Tadi disampaikan bahwa daerah kumuh di Loa Kulu Kota ini berawal di 10 hektare, sekarang tinggal 1 hektare,” katanya.
Aulia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa implementasi data di tingkat desa mampu memberikan dampak nyata terhadap pembangunan masyarakat. Ia pun meyakini ketiga desa yang dipilih memiliki kualitas yang sama dalam memanfaatkan data sebagai dasar pembangunan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur dan BPS Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah mempercayakan tiga desa tersebut untuk mengikuti program Desa Cantik tahun 2026.
“Kami sangat bangga selaku bupati memiliki kepala desa yang sangat menguasai data, bekerja dengan data dan implementasi,” ucapnya.
Pemkab Kukar akan memberikan dukungan penuh kepada ketiga desa tersebut selama proses penilaian berlangsung. Dukungan itu meliputi penguatan koordinasi, pendampingan, hingga kolaborasi lintas perangkat daerah agar desa mampu menampilkan kualitas terbaiknya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah ingin capaian yang dipresentasikan dalam lomba nantinya benar-benar berasal dari implementasi nyata di lapangan, bukan sekadar pencitraan administratif.
Menurutnya, pengelolaan data yang baik harus mampu diterjemahkan menjadi program pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami akan menjaga itu, dan kami berjanji atas nama Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tidak akan mengecewakan BPS Provinsi Kalimantan Timur dan BPS Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah mempercayakan kepada ketiga desa ini untuk mengikuti lomba ini,” pungkasnya. (ltf/fdl)









