KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat upaya antisipasi kebakaran di kawasan permukiman padat. Salah satu Langkah yang dilakukan yakni dengan menyediakan sistem intalasi pemadam kebakaran atau hydrant kering di kawasan pemukiman padat penduduk.
Salah satu hydrant kering dipasang Disdamkarmatan Kukar di bantaran Sungai Tenggarong, tepatnya Jalan Kartini, Kelurahan Melayu. Alat tersebut dilakukan pengecekan oleh Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menjelaskan bahwa hydrant kering yang ditinjau merupakan pilot project pertama yang diterapkan di Kukar.
“Selama ini, beberapa hydrant masih menggunakan tekanan air PDAM, yang tentu berisiko merusak jaringan perpipaan di rumah-rumah warga. Karena itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran berinisiatif menghadirkan pilot project hydrant kering,” ujarnya.
Menurutnya, sistem hydrant kering telah banyak digunakan di kota-kota besar di Indonesia karena lebih fleksibel dan aman untuk kawasan padat penduduk. Ke depan, Pemkab Kukar berencana menerapkan sistem ini secara bertahap, tidak hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau kampung-kampung yang tersebar di 20 kecamatan.
“Kita punya banyak kawasan permukiman padat dan kampung-kampung yang masuk kategori kumuh. Secara data, jumlah titik kampung kumuh di Kukar lebih dari 30 titik. Wilayah-wilayah ini tentu sangat rawan jika terjadi kebakaran, sehingga perlu perhatian khusus,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengungkapkan bahwa ide pengembangan hydrant kering berangkat dari diskusi panjang dengan Wakil Bupati Kukar terkait penanganan kebakaran di wilayah sulit air, khususnya daerah pesisir dan kampung yang sumber airnya hanya air laut atau air payau.
“Kami ini sebenarnya punya mesin hydrant, tetapi kendalanya ada di pipanisasi. Mau pakai PDAM juga tidak bisa disamaratakan, karena kondisi di tiap kecamatan berbeda,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, selama hampir dua tahun pihaknya memikirkan solusi terbaik untuk daerah-daerah yang minim sumber air, seperti kawasan Danau Aji dan wilayah pesisir. Melalui berbagai masukan dan uji coba, akhirnya ditemukan pola pipanisasi yang dinilai lebih kuat dan mampu menjangkau jarak hingga satu kilometer, di luar ekspektasi awal.
“Hari ini kita buktikan langsung. Dengan tekanan tertentu, air bisa mengalir sampai satu kilometer. Itu yang membuat saya berani mengajak Pak Wakil untuk melihat langsung,” jelasnya.
Fida menegaskan bahwa sistem hydrant kering yang diuji coba ini bersifat sederhana, tidak rumit, dan relatif lebih terjangkau. Yang terpenting, menurutnya, adalah memastikan ketersediaan sumber air, mesin pemadam yang dimiliki, serta pipa standar yang mampu menahan tekanan dalam jangka waktu lama.
Disdamkarmatan Kukar akan memetakan wilayah-wilayah rawan kebakaran, termasuk kawasan seperti Samboja dan kampung-kampung padat lainnya, untuk penerapan hydrant kering secara bertahap. Dengan jangkauan hingga satu kilometer, satu titik hydrant kering dinilai mampu melayani kebutuhan air pemadaman untuk dua hingga tiga RT.
“Bukan untuk mendahului musibah, tetapi ini adalah bagian dari kesiapan kita sebagai aparat. Kunci pemadaman itu ada di air, dan kita harus memastikan sumber air selalu siap dalam situasi apa pun,” pungkasnya. (ltf/fdl)










