KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Peristiwa meninggalnya seorang bayi berusia enam bulan asal Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Senin (16/2/2026), memicu perhatian publik dan mendorong evaluasi terhadap pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah tersebut.
Kejadian itu bermula ketika bayi mengalami demam tinggi disertai sesak napas dan dibawa ke Puskesmas Batuah pada dini hari. Namun dalam penanganan awal, muncul dugaan kendala pada penggunaan oksigen serta keterlambatan proses rujukan ke rumah sakit.
Pihak keluarga sebelumnya menyampaikan bahwa saat regulator dipasang ke tabung oksigen, jarum penunjuk disebut berada di angka nol. Kondisi tersebut membuat keluarga menduga oksigen dalam keadaan kosong saat dibutuhkan untuk pertolongan pertama.
Di sisi lain, Kepala Puskesmas Batuah telah memberikan klarifikasi bahwa oksigen tersedia dan tabung dalam kondisi terisi. Hanya saja, terdapat kendala teknis pada tuas pembuka sebelum regulator sehingga oksigen tidak dapat langsung digunakan.
Selain persoalan oksigen, keluarga juga menyoroti tidak terhubungnya sopir ambulans saat kondisi bayi semakin kritis. Karena situasi dinilai mendesak, keluarga akhirnya membawa bayi menggunakan kendaraan pribadi menuju rumah sakit, namun nyawa korban tidak tertolong di perjalanan.
Peristiwa tersebut pun menjadi perhatian Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad Yani. Ia menegaskan bahwa kasus ini harus diinvestigasi secara menyeluruh untuk mengetahui akar persoalan yang sebenarnya.
“Ya, itu pasti peralatannya yang medisnya itu dan seterusnya itu banyak kesalahan dan keliruan, sehingga perlu diinvestigasi sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, DPRD akan melakukan pendalaman terhadap kemungkinan adanya kekeliruan dalam penerapan sistem pelayanan, termasuk standar operasional prosedur (SOP) serta kelayakan peralatan medis yang digunakan di fasilitas tersebut.
“Juga nanti kami DPRD akan lakukan investigasi terkait dengan kekeliruan atau kesalahan atau penerapan sistem yang ada di sana,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar tidak kembali terjadi di fasilitas kesehatan lainnya.
“Termasuk juga mungkin karena medisnya tidak sesuai, tidak standar, dan bahkan peralatan medisnya, sehingga itu membuat kecelakaan sampai meninggal. Oleh karena itu tidak boleh lagi terjadi di puskesmas atau di tempat-tempat yang lain,” pungkasnya. (ltf/fdl)










