KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Ribuan masyarakat memadati ruas jalan di Tenggarong untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang digelar pada Rabu (18/03/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai toleransi di tengah suasana Ramadan.
Warga Tenggarong antusias menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh yang diusung oleh umat Hindu. Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang agama menunjukkan tingginya semangat kebersamaan dalam keberagaman.
Salah satu peserta pawai, Gede Wiratma Jaya, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan simbol penting dalam prosesi menjelang Hari Raya Nyepi, yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif di lingkungan sekitar.
Kegiatan ini menjadi penutup dari rangkaian persiapan Nyepi yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh umat Hindu di Kutai Kartanegara.
“Ini adalah bagian dari rangkaian penutupan persiapan Nyepi,” katanya.
Menurut Gede, antusiasme masyarakat tahun ini terasa lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak warga yang turut menyaksikan bahkan ikut berjalan mengikuti arak-arakan ogoh-ogoh.
“Saya rasa tahun ini lebih ramai lagi, banyak masyarakat yang ikut bergabung dalam kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan pawai ogoh-ogoh dapat menjadi agenda tahunan yang lebih besar dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah, sehingga bisa berkembang menjadi daya tarik wisata budaya.
Sementara itu, salah satu penonton, Helda, menilai pelaksanaan pawai ogoh-ogoh di Tenggarong menunjukkan adanya sikap saling menghargai antarumat beragama yang telah terjalin dengan baik.
Ia menyebut momen tahun ini terasa istimewa karena Hari Raya Nyepi bertepatan dengan bulan Ramadan, sehingga menjadi simbol nyata kerukunan di tengah perbedaan.
“Ini momen yang sangat pas antara Ramadan dan persiapan Nyepi. Jarang terjadi, mungkin butuh waktu lama lagi untuk momen seperti ini,” ucapnya.
Helda yang pernah tinggal di Bali juga mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan ritual, nilai-nilai utama tetap terjaga, terutama dalam hal kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi.
Pawai ogoh-ogoh di Tenggarong pun menjadi bukti bahwa tradisi budaya dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial yang harmonis, sekaligus memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.
“Yang penting kita saling menghargai satu sama lain,” tutupnya. (ltf/fdl)









