KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 digelar di areal pertanian jagung Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada Sabtu (16/05/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Paradise PT Kitadin tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting bersama sejumlah daerah lain di Indonesia.
Kegiatan panen raya itu dihadiri Kapolda Kalimantan Timur (Kaltim) Irjen Pol Endar Priantoro dan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, serta melibatkan kelompok tani binaan PT Kitadin yang selama ini mengelola lahan pertanian jagung di kawasan pascatambang.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro mengatakan panen raya kuartal II tahun 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, khususnya komoditas jagung di Kaltim.
“Hari ini kami melakukan panen serentak kuartal II tahun 2026 ketahanan pangan untuk jagung,” ujarnya.
Ia menyebut, lahan yang siap dipanen di lokasi tersebut mencapai kurang lebih 55 hektare dengan estimasi hasil panen sekitar 20 ton jagung.
Menurutnya, keberhasilan program ini tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak mulai dari kelompok tani, pemerintah daerah hingga perusahaan.
Endar juga memaparkan perkembangan program penanaman jagung di Kaltim yang dinilai menunjukkan tren positif. Dari total lahan sekitar 1.570 hektare, sebanyak 861 hektare atau sekitar 51,1 persen telah ditanami jagung.
“Hasilnya mencapai 368 ton dan sekitar 220 ton sudah terserap oleh Bulog. Pada Mei tahun ini juga dilakukan penanaman seluas 31,25 hektare dengan target produksi 47,40 ton,” jelasnya.
Ia berharap program penanaman jagung tersebut dapat terus berkembang dan menjadi salah satu penguat ketahanan pangan di Kaltim.
Kapolda juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar dan PT Kitadin terhadap pengembangan sektor pertanian.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menilai konsep pertanian di kawasan Kitadin Paradise menjadi contoh baik dalam pemanfaatan lahan pascatambang menjadi kawasan produktif berbasis pertanian modern.
Aulia menyebut terdapat sekitar 200 petani yang tergabung dalam kelompok tani untuk mengelola kawasan tersebut.
Program itu juga melibatkan berbagai pihak mulai dari perusahaan, pemerintah daerah, kepolisian hingga perbankan melalui dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Harapan dari Pak Kapolda adalah menciptakan zero waste sehingga tidak ada yang terbuang dan semua bisa dimanfaatkan,” katanya.
Ia mengatakan, hasil panen petani nantinya diharapkan dapat terserap sepenuhnya baik oleh Bulog maupun pihak offtaker lainnya sehingga rantai produksi hingga distribusi dapat berjalan optimal.
“Industrial farming ini kita buat sehingga dari hulu sampai hilir sudah tertangani dengan baik,” pungkasnya. (ltf/fdl)










