Home / Pemerintah / Pendidikan-Kesehatan / Politik

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:12 WIB

Ketua Komisi X DPR RI Dorong Skema Beasiswa Fleksibel bagi Aparat Desa untuk Tuntaskan Pendidikan S1

Hetifah Sjaifudian - Ketua Komisi X DPR RI (Latif/Eksposisi)

Hetifah Sjaifudian - Ketua Komisi X DPR RI (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com –  Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mendorong pemerintah untuk menghadirkan skema beasiswa yang lebih fleksibel bagi aparat desa agar dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana.

Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur desa menjadi kebutuhan penting untuk menjawab tantangan tata kelola pemerintahan desa yang semakin kompleks.

Ia mengatakan, saat ini pemerintah memang telah memiliki berbagai program beasiswa, namun sebagian besar masih menyasar lulusan baru sekolah menengah.

“Sementara kebutuhan aparat desa berbeda karena banyak yang sudah bekerja tetapi belum menyelesaikan pendidikan sarjananya,” ujarnya beberapa waktu lalu.)

Menurutnya, peluang bagi perangkat desa sebenarnya dapat dibuka melalui berbagai program pendidikan yang telah tersedia, termasuk beasiswa dari pemerintah daerah.

Di Kutai Kartanegarai, kata dia, terdapat sejumlah program bantuan pendidikan yang dapat dimanfaatkan apabila disesuaikan dengan kebutuhan aparatur desa.

Baca Juga :  Polemik Jalan Ring Road II Samarinda Mendapat Titik Terang, DPRD Kaltim Komitmen Kawal Anggaran

“Sebetulnya kita juga punya berbagai program beasiswa, termasuk yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Harapannya program-program itu juga bisa menyasar perangkat desa, karena berdasarkan data yang kami peroleh masih banyak aparat desa yang belum menyelesaikan pendidikan S1,” katanya.

Hetifah menilai, peningkatan jenjang pendidikan aparatur desa tidak hanya bertujuan memperoleh gelar akademik, tetapi juga memperkuat kompetensi dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan skema pendidikan berbasis rekognisi pembelajaran lampau (RPL), yakni mengakui pengalaman kerja perangkat desa sebagai bagian dari capaian pembelajaran yang dapat dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS).

Menurut Hetifah, kurikulum bagi aparatur desa juga perlu dirancang lebih adaptif agar sesuai dengan tantangan pelayanan publik dan perkembangan teknologi. Untuk itu, ia mendorong adanya kerja sama antara pemerintah dengan perguruan tinggi, baik di Kutai Kartanegara maupun di daerah lain.

Baca Juga :  KPU Kukar Luncurkan Tahapan Pilkada 2024, Maskot Pun Diperkenalkan ke Publik

“Model pembelajarannya juga bisa dibuat lebih fleksibel, bahkan menggunakan metode hybrid, sehingga perangkat desa tetap bisa menjalankan tugasnya sambil melanjutkan pendidikan,” ujarnya.

Ia mengatakan skema serupa sebenarnya telah diterapkan kepada tenaga pendidik, khususnya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang dapat menyelesaikan pendidikan sarjana tanpa harus meninggalkan tugas mengajar.

“Untuk guru sekarang sudah ada. Guru PAUD tidak harus berhenti mengajar untuk menjadi sarjana. Biayanya juga ditanggung pemerintah, begitu pula guru SD dan jenjang lainnya,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Kembangkan Industri Kopi dan Kakao, Pemkab Kukar Sedang Jalin Kerjasama dengan Puslikoka Jember

Advertorial

Sekda Melakukan Peninjauan Persiapan PSU Pilkada Kukar di Sejumlah TPS

Advertorial

Pemkab Kukar Menggelar Rapat Persiapan Pelaksanaan GPM Menjelang HBKN

Advertorial

Tabligh Akbar Digelar Dalam Rangka Peringatan HUT ke-60 Desa Jonggon

Advertorial

Sangasanga Juara Umum Lomba BKPAKSI Kukar

Advertorial

Perisiapan Peringatan Hari Kemerdekaan, Pemkab Kukar Buka Seleksi Paskibra

Advertorial

Bupati Saksikan Penandatanganan MoU PT Tunggang Parangan Perseroda dengan PT KBS

Advertorial

Pemkab Kukar Hadiri Acara Puncak Gerakan Sinergi Reforma Agraria Nasional