Home / Advertorial / Pemerintah / Politik

Kamis, 6 Juni 2024 - 15:44 WIB

Anggota DPRD Tekankan Pentingnya Pelaporan dan Pemindaian bagi Pendatang di Kutim

Novel Tyty Paembonan - Anggota DPRD Kutim

Novel Tyty Paembonan - Anggota DPRD Kutim

KUTAI TIMUR, eksposisi.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Dr. Novel Tyty Pembonan, menekankan pentingnya pelaporan dan pemindaian kesehatan bagi pendatang di wilayah tertentu untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Pihaknya menyampaikan mengenai langkah-langkah penting yang perlu diambil untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Dalam audiens yang diadakan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, kecamatan, tokoh masyarakat, desa, dan tokoh agama, muncul permintaan agar setiap pendatang melaporkan diri kepada pemerintah setempat.

“Audiens yang telah kita undang dari pemerintahan, kecamatan, tokoh masyarakat, desa, dan tokoh agama. Jadi yang pertama mereka minta adalah bagi setiap pendatang itu memang betul-betul melaporkan dirinya pada pemerintah setempat,” ujar Dr. Novel saat ditemui rekan media di Kantor DPRD Kutim. Rabu (05/06/2024)

Menurutnya, pendatang yang datang ke wilayah tertentu harus mendaftarkan diri. Terutama bagi perempuan yang ingin bekerja di tempat hiburan malam (THM), mereka harus menjalani pemindaian kesehatan awal untuk memastikan bebas dari penyakit HIV/AIDS.

Baca Juga :  Pastikan Udara di Lingkungan Sekolah Tetap Bersih, SMPN 2 Terapkan Program Bebas Asap

“Kalau dia seorang perempuan yang ingin mendaftar kerja di tempat hiburan malam (THM) maka wajib dilakukan pemindaian di seksi awal, apakah dia memang bebas dari penyakit HIV/AIDS,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa HIV/AIDS adalah virus yang menginfeksi darah dan dapat menyebabkan sindrom setelah bertahun-tahun. Gejalanya bisa muncul secara berulang seperti flu, diare tanpa alasan jelas, yang bisa menjadi tanda seseorang terinfeksi HIV/AIDS.

“Nah itu merupakan salah satu tanda gejala yang terkena penyakit HIV/AIDS, lama kelamaan kalau itu tidak diobati maka dia akan meninggal,” bebernya.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerinra) juga menegaskan bahwa obat untuk penyakit tersebut tersedia dan dapat diperoleh secara gratis di puskesmas. Namun pengaruh sosial membuat banyak penderita merasa malu untuk mengambil obat tersebut.

Baca Juga :  Nyaman Bejukut, Program DKP Bantu Nelayan untuk Mandiri dan Produktif

“Sesungguhnya obatnya ada di puskesmas dan itu gratis, cuma mereka menganggapnya penyakit yang memalukan sehingga mereka yang mengidap penyakit itu malu untuk mengambil obat,” lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa identitas pasien dirahasiakan oleh tenaga kesehatan untuk menghindari depresi akibat tekanan sosial. Meskipun demikian, menyadarkan masyarakat untuk melakukan tes dan pengobatan tetap menjadi tantangan besar.

“Hanya saja sulit untuk menyadarkan mereka, sampai saat ini sulit menyadarkan mereka bahwa kalian yang memang punya risiko tinggi harus dilakukan tes, kalaupun itu positif maka harus berobat dan berobat itu gratis,” pungkasnya. (adv/dprd/kutim)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Camat Berharap Pembangunan Bedungan Marangkayu Segera Terselesaikan

Advertorial

Tingkatkan Kualitas Kebun Sawit Milik Masyarakat, Pemkab Kukar Luncurkan Program STDB

Advertorial

Bupati Kukar Hadiri Salat Ied di Masjid Agung Sultan Adji Muhammad Sulaiman

Advertorial

Bupati Kukar Paparkan Strategi Dongkrak PAD Usai Laporan Pertanggungjawaban 2024 Disetujui DPRD

Advertorial

Rumah Sakit Muara Badak Akan Segera Dioperasikan

Advertorial

Dinsos Kukar Sediakan Tempat Penampungan Sementara ODGJ

Advertorial

Komisi IV DPRD Kukar Kunjungi Kutim, Bahas Penanganan Kemiskinan Daerah

Advertorial

Upayakan Percepatan Penurunan Stunting, Pemkab Kutim Menggelar Rakor TPPS