Home / Ekonomi / Finansial

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:44 WIB

Dampak Kenaikan Harga Pertamax Dirasakan Ojol di Tenggarong

SPBU di Tenggarong (Latif/Eksposisi)

SPBU di Tenggarong (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter mulai dirasakan dampaknya oleh para pengemudi ojek online.

Kenaikan tersebut dinilai menambah beban biaya operasional, terutama bagi pengemudi yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah.

Salah seorang pengemudi ojek online di Tenggarong, Zaini Ali, mengaku terkejut saat mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax. Menurutnya, perubahan harga yang cukup signifikan membuat para pekerja transportasi harus kembali menyesuaikan pengeluaran harian mereka.

Ia menjelaskan bahwa dalam bekerja sehari-hari dirinya tidak selalu menggunakan satu jenis bahan bakar. Pemilihan BBM biasanya menyesuaikan dengan kondisi di lapangan dan ketersediaan stok di SPBU.

“Biasanya saya pakai Pertalite, kadang juga Pertamax. Tergantung ketersediaannya. Tapi untuk saat ini lebih sering menggunakan Pertalite,” ujarnya Rabu (10/6/2026).

Baca Juga :  Ketua DPRD Kukar Berharap Dana Kurang Salur dari Pemerintah Pusat Segera Ditransfer

Meski lebih sering menggunakan Pertalite, Zaini mengaku tetap harus membeli Pertamax dalam kondisi tertentu. Salah satunya ketika antrean Pertalite terlalu panjang sehingga dapat mengurangi waktu kerja dan potensi pendapatan yang diperoleh dalam sehari.

Menurutnya, pilihan tersebut bukan karena keinginan pribadi, melainkan kebutuhan agar aktivitas mencari penumpang tetap berjalan.

Waktu yang terbuang akibat antrean panjang dinilai sama merugikannya dengan biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk membeli BBM yang lebih mahal.

“Kalau Pertalite tidak ada atau antreannya terlalu panjang, terpaksa harus beralih ke Pertamax. Mau tidak mau karena kita harus tetap bekerja dan jalan terus,” katanya.

Zaini menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax secara langsung berdampak pada meningkatnya biaya operasional para pengemudi ojek online. Sementara itu, pendapatan yang diterima dari aplikasi tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Baca Juga :  Rencana Penggusuran Pedagang Warung Panjang di Tahura Bukit Soeharto Ditunda

Kondisi tersebut membuat sebagian pengemudi merasa semakin tertekan. Biaya bahan bakar yang meningkat harus ditanggung sendiri tanpa adanya tambahan insentif maupun penyesuaian tarif layanan.

“Jelas menambah biaya operasional. Dari biaya aplikasi juga tidak ada penambahan, sementara biaya bahan bakar naik. Yang biasa pakai Pertamax jelas terbebani,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan harga BBM yang berlaku saat ini. Apabila harga tidak memungkinkan untuk diturunkan, Zaini berharap ada langkah lain yang dapat membantu para pengemudi, baik melalui kebijakan pemerintah maupun dukungan dari perusahaan aplikator.

“Kalau bisa diturunkan lagi tentu lebih baik. Tapi kalau memang tidak bisa, mungkin ada kebijakan lain, misalnya tarif pengantaran ditambah atau ada bentuk bantuan lain untuk pengemudi,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Bisnis

Perumda Tirta Mahakam Gandeng Pihak Ketiga Tingkatkan Kapasitas Air Bersih di Tenggarong

Ekonomi

Ketua DPRD Kukar Tekankan APBD Harus Terealisasi Maksimal Demi Kesejahteraan Masyarakat

Bisnis

FSPTI–KSPI Kukar Siapkan Program Jangka Menengah dan Panjang, Fokus Penyesuaian Upah dan Perlindungan Usia Kerja Buruh

Advertorial

Program Padat Karya Produktif Distransnaker Dilaksanakan di Kelurahan Maluhu

Bisnis

KUPP Kuala Samboja dan APBMI Gelar Pelatihan Aplikasi Stevedor untuk Digitalisasi Pelabuhan

Bisnis

Sidak ke Tangga Arung Square, Wakil Bupati Kukar Ancam Cabut Izin Ratusan Kios yang Tak Kunjung Dibuka

Advertorial

Arbis Space dan Aplikasi Kukar Go Segera Diluncurkan, Jadi Etalase UMKM Kukar

Advertorial

Ketua DPRD Sebut Penyertaan Modal Pemkab Kukar ke Bankaltimtara Bisa Ditunda