Home / Bisnis / Ekonomi / Finansial

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:01 WIB

Pedagang Pakaian Muslim di Kawasan Masjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong Sepi Pengunjung

Ahmad - Pedagang (Latif/Eksposisi)

Ahmad - Pedagang (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Penurunan omzet pedagang pakaian muslim di kawasan sekitar Masjid Agung Tenggarong pada Ramadan tahun ini memunculkan sorotan terhadap pola penataan lapak oleh pihak terkait.

Pedagang menilai, pemisahan zona jualan menjadi salah satu faktor utama berkurangnya pembeli. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aktivitas jual beli di sekitar masjid kini terlihat lebih lengang. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang yang biasanya mengandalkan momentum Ramadan untuk meraup keuntungan lebih besar.

Ahmad, salah satu pedagang yang telah berjualan selama belasan tahun, mengungkapkan bahwa penurunan omzet terjadi cukup signifikan. Ia menyebut, kondisi ini jauh dari ekspektasi jika dibandingkan dengan Ramadan sebelumnya.

“Kalau tahun-tahun kemarin itu, pertengahan puasa bisa sampai Rp4 juta sampai Rp6 juta sehari. Sekarang Rp2 juta saja susah,” ujarnya pada Selasa (17/03/2026).

Ia menilai, perubahan kebijakan penataan pedagang menjadi penyebab utama sepinya pembeli. Sebelumnya, pedagang pakaian ditempatkan berdampingan dengan pedagang takjil, sehingga menciptakan keramaian yang saling menguntungkan.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kutim Anggap Pentingnya Pengembangan UMKM

Kini, pedagang takjil dipusatkan di area pasar, sementara pedagang pakaian tetap berada di sekitar masjid. Kondisi ini dinilai memutus alur kunjungan masyarakat yang biasanya berbelanja secara bersamaan.

“Dulu digabung sama yang jualan takjil, jadi orang beli takjil sekalian lihat-lihat dan beli baju. Sekarang takjil di pasar, pakaian di sini, jadi sepi,” jelasnya.

Selain faktor lokasi, pedagang juga menghadapi tantangan lain, seperti keterlambatan pemasangan fasilitas jualan. Meski telah mendapatkan izin berjualan sejak awal Ramadan, tenda baru tersedia beberapa hari setelahnya, sehingga waktu berjualan efektif menjadi berkurang.

Ahmad mengaku, kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan. Hingga pertengahan Ramadan, omzet yang diperoleh masih jauh di bawah capaian tahun sebelumnya.

Pada Ramadan tahun lalu, ia mampu mengumpulkan pendapatan hingga Rp50 juta sampai Rp70 juta dalam periode yang sama. Namun tahun ini, total omzet yang didapat baru sekitar Rp20 juta.

Baca Juga :  Ketua DPRD Tegaskan Tiga Kecamatan di Kukar yang Masuk Kawasan IKN Masih Menjadi Tanggung Jawab Pemkab

Di sisi lain, biaya operasional yang harus dikeluarkan tetap tinggi. Untuk menyewa tenda selama Ramadan, pedagang harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah, sehingga menambah beban di tengah penjualan yang menurun.

Barang dagangan yang dijual pun relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mulai dari baju koko hingga kopiahdengan harga yang masih terjangkau. Namun, rendahnya jumlah pengunjung membuat perputaran barang menjadi lambat.

Kondisi ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi pihak terkait, khususnya dalam menentukan kebijakan penataan pedagang di kawasan strategis selama Ramadan. Para pedagang berharap ada evaluasi agar ke depan distribusi pengunjung bisa lebih merata.

“Kalau bisa dikembalikan seperti dulu, biar ramai lagi. Soalnya kami ini mengandalkan momen Ramadan untuk cari untung,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Advertorial

APBD Kaltim Meningkat Drastis, Anggota DPRD Kaltim Ingatkan Pemprov Perhatikan Isu Krusial Untuk Ditangani

Bisnis

Satu Data Perikanan Jadi Fokus DKP Kukar pada Rakor Statistik Sektoral 2025

Bisnis

Dinas Koperasi dan UKM Kukar Luncurkan Program Jadi Pengusaha untuk Cetak Wirausaha Baru

Bisnis

Perusahaan Pengelola Sirkuit Mandalika Merugi Rp100 Miliar, Kementerian BUMN Anggap Wajar

Advertorial

PT MHU Borong Penghargaan GMP Award 2022, Bukti Komitmen pada Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik

Bisnis

Penjualan Menurun, Harga Ayam Potong di Pasar Mangkurawang Ikut Turun

Ekonomi

Pekerja Tambang Batu Bara di Sebulu Laporkan PHK Tanpa Gaji dan Pesangon, Diduga Ada 200 Korban Lain

Bisnis

PT MHU Meraih Penghargaan ASEAN Coal Award 2023 Kategori Pertambangan Batubara Berskala Besar