KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat tren kunjungan wisata selama periode libur lebaran masih didominasi oleh destinasi pantai. Akses yang mudah dan jarak yang relatif dekat menjadi faktor utama tingginya minat masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus Dharmawan, menyebutkan bahwa objek wisata pantai tetap menjadi primadona dibandingkan destinasi lainnya.
“Wisata pantai yang jadi primadona, karena mungkin orang-orang mikirnya aksesnya mudah, mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh,” ujarnya pada Jumat (3/4/2026).
Ia mencontohkan sejumlah pantai yang mengalami lonjakan kunjungan, salah satunya Pantai Tanah Merah yang dinilai cukup ramai selama masa libur.
“Tanah Merah itu yang saya lihat agak banyak dikunjungi. Yang sepanjang dikelola Dispar, pantai-pantai lain itu juga penuh,” jelasnya.
Di sisi lain, Dispar Kukar juga mencermati adanya penurunan kunjungan pada beberapa destinasi edukasi, seperti Museum Kayu. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh munculnya berbagai destinasi wisata baru di sejumlah kecamatan.
Menurutnya, berkembangnya destinasi wisata baru membawa dampak ganda. Di satu sisi memperkaya pilihan wisata, namun di sisi lain juga menyebabkan persebaran jumlah pengunjung ke berbagai titik.
“Di satu sisi berkembang daerah wisata, tapi di sisi lain pengunjungnya jadi tersebar,” katanya.
Sementara itu, untuk kunjungan ke Planetarium Jagad Raya, ia menyebutkan masih relatif stabil meski tidak setinggi tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah durasi cuti bersama yang lebih singkat pada tahun ini.
“Kalau di Planetarium Alhamdulillah kunjungannya tetap ada, cuma mungkin karena cuti bersamanya lebih pendek dibanding tahun lalu, jadi agak mempengaruhi,” ujarnya.
Terkait kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata, khususnya Pantai Tanah Merah, Dispar Kukar mengaku belum menerima laporan akhir secara keseluruhan.
Ia mengatakan, sistem pelaporan pendapatan dari objek wisata umumnya dilakukan secara berkala, tergantung pengelola masing-masing destinasi.
“Biasanya dilaporkan per bulan, tergantung yang mengelola. Dari karcis yang terjual itu nanti kita rekap lagi untuk data PAD,” pungkasnya. (ltf/fdl)






