Home / Pendidikan-Kesehatan / Serba Serbi

Kamis, 19 Maret 2026 - 12:15 WIB

Kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh di Tenggarong, Simbol Pengusiran Roh Jahat Sambut Hari Raya Nyepi

Kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh saat umat Hindu di Tenggarong menyambut Hari Raya Nyepi (Latif/Eksposisi)

Kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh saat umat Hindu di Tenggarong menyambut Hari Raya Nyepi (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi berlangsung meriah di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian ritual keagamaan umat Hindu yang telah dilaksanakan secara bertahap.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) Kukar, Nyoman Surada, menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan salah satu rangkaian penting menjelang Nyepi. Sebelumnya, umat Hindu telah melaksanakan upacara Tawur Kesanga sebagai bagian dari prosesi penyucian.

Ia menyebutkan, pawai tersebut diikuti sekitar 200 umat Hindu sebagai peserta utama, khususnya dari lingkungan sekitar Kota Tenggarong. Namun, antusiasme masyarakat jauh lebih besar, dengan ribuan warga turut menyaksikan jalannya arak-arakan tersebut.

“Peserta sekitar 200 umat kita, terutama dari lingkungan sekitar kota Tenggarong. Tapi yang ikut menyaksikan dari belakang ribuan,” ujarnya pada Rabu (18/03/2026).

Baca Juga :  Ratusan Siswa dan Guru di Kukar Ikuti Lomba Gerak Jalan Pelajar Idaman Peringatan Hardiknas

Menurut Nyoman, ogoh-ogoh memiliki makna simbolis sebagai representasi kekuatan negatif atau roh jahat yang ada di sekitar kehidupan manusia. Wujudnya yang menyeramkan menggambarkan sifat-sifat buruk yang harus dihilangkan.

“Maknanya ogoh-ogoh ini adalah mengusir roh-roh jahat. Bentuknya raksasa, itu simbol perilaku negatif,” jelasnya.

Ogoh-ogoh sengaja diarak keliling sebagai bagian dari upaya menetralisir energi negatif sekaligus memenuhi permintaan masyarakat yang ingin menyaksikan tradisi tersebut secara langsung.

“Nah, arak keliling ini selain untuk menghibur masyarakat karena permintaan masyarakat, juga maksudnya untuk mengusir roh-roh jahat,” tuturnya.

Dalam prosesi tersebut, terdapat pula ritual simbolik seperti menaburkan beras kuning sebagai bentuk “memberi makan” roh jahat agar tidak mengganggu saat umat menjalankan Catur Brata Penyepian.

Baca Juga :  Pemprov Kaltim Raih Penghargaan Indonesia Award 2023 Kategori Outstanding Award for Integrated Initiative

“Biasanya ada sarana membuang beras kuning supaya roh jahat itu tidak mengganggu saat Catur Brata,” jelasnya.

Setelah diarak, ogoh-ogoh kemudian dibakar sebagai simbol penghancuran sifat-sifat buruk dan pembersihan diri serta lingkungan. Hal ini menjadi bagian penting dalam mencapai keseimbangan alam dan spiritual.

Ia mengungkapkan bahwa proses pembuatan ogoh-ogoh dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dan telah menjadi rutinitas tahunan yang terus berkembang.

Menurutnya, setiap tahun antusiasme masyarakat terus meningkat, baik dari segi partisipasi maupun jumlah penonton yang hadir.

Ke depan, pihaknya berharap dukungan masyarakat terus meningkat agar pelaksanaan pawai ogoh-ogoh bisa semakin meriah dan lebih baik lagi.

“Harapan kami mohon dukungan masyarakat, semoga ke depan bisa lebih bagus,” tutupnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Pemerintah

Telat Dibayar, Insentif Guru Honorer Kukar Segera Cair

Advertorial

Anggota DPRD Kaltim Dukung Langkah Pemprov Berikan Insentif Bulanan Bagi Guru Swasta

Pemerintah

Anggapan Miring Tentang Pulau Kumala Tidak Benar, Pemkab Kukar Terus Melakukan Pengembangan Fasilitas

Advertorial

Disdikbud Kukar Menggelar Rakor, Selaraskan Jumlah Guru dan Tenaga Pendidikan

Advertorial

Disdikbud Kukar Menggelar Pelatihan Profil Pelajar Pancasila, Diikuti Puluhan Pelajar Tingkat SMP

Ekonomi

PAD Sektor Pariwisata Kukar di Atas 50 Persen, Dinas Pariwisata Kukar Optimis Lampaui Target di Akhir Tahun

Serba Serbi

Kukar Mendapat Penghargaan dari Mendes PDTT Dalam Pagelaran TTGN 2023
Suasana lomba berbahasa Kutai

Advertorial

Disdikbud Kukar Menggelar Festival Bahasa Ibu, Sejumlah Seni Berbahasa Kutai Dilombakan