KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) XLVI Tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga peluang untuk mendorong sektor pariwisata dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kehadiran ribuan peserta dan pendamping dari berbagai kabupaten/kota diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan penyelenggaraan MTQH menjadi momentum bagi daerah untuk memperkenalkan potensi pariwisata sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, berbagai sektor pendukung pariwisata perlu dipersiapkan agar dapat memberikan pelayanan optimal kepada para tamu yang datang.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kukar untuk memastikan pembinaan terhadap seluruh unsur yang bergerak di bidang pariwisata berjalan dengan baik. Pembinaan tersebut menyasar penggiat wisata hingga pelaku usaha yang bergerak di sektor perhotelan dan rumah makan.
“Saya beberapa hari ini bersama dengan teman-teman Dinas Pariwisata. Pertama memastikan bahwa upaya mereka dalam rangka membina semua struktur yang ada di bidang pariwisata ini berjalan, baik penggiat wisata, baik pelaku usaha perhotelan, rumah makan dan lain-lain,” ungkapnya pada Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, upaya pembinaan tersebut telah menunjukkan gambaran kesiapan sejumlah sektor pendukung. Namun, hal yang masih menjadi pekerjaan rumah ke depan adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan optimalisasi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Dinas Pariwisata agar mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki daerah.
Sunggono menilai, sektor pariwisata memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan SDM perlu menjadi perhatian agar pembinaan terhadap penggiat wisata dan pelaku usaha dapat berjalan lebih maksimal, sekaligus mendorong peningkatan pendapatan daerah.
“Yang mungkin jadi PR ke depan adalah bagaimana itu bisa lebih ditingkatkan. Karena memang di antaranya sumber daya teman-teman di Dispar memang harus kita lebih dorong supaya mereka bisa lebih optimal,” jelasnya.
Selain dampak terhadap sektor pariwisata, Pemkab Kukar juga telah melakukan perhitungan awal mengenai potensi perputaran uang selama pelaksanaan MTQH XLVI. Berdasarkan perkiraan panitia, jumlah kafilah yang akan hadir mencapai sekitar 1.516 orang dan diperkirakan berada di Kukar selama 12 hari pelaksanaan, yakni pada 3–12 Desember 2026.
Dengan asumsi setiap orang membelanjakan uang sebesar Rp100 ribu per hari, potensi perputaran uang dari aktivitas belanja kafilah diperkirakan mencapai Rp1,8 miliar.
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan jumlah kafilah dan asumsi pengeluaran harian, sehingga belum mencakup potensi transaksi dari pengunjung maupun masyarakat yang terlibat dalam kegiatan.
Perputaran uang tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari penginapan, hotel, rumah makan, transportasi, hingga pelaku UMKM. Terlebih, rangkaian MTQH juga akan diramaikan dengan kegiatan Pawai Ta’aruf dan pameran UMKM yang membuka peluang promosi serta transaksi bagi produk lokal Kukar.

Sunggono berharap, momentum penyelenggaraan MTQH tingkat provinsi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk menyukseskan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Dukungan dan kesiapan seluruh unsur pariwisata dinilai penting agar peluang tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa optimalisasi sektor pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada kegiatan MTQH semata. Pembinaan dan peningkatan kapasitas SDM diharapkan dapat terus berlanjut sehingga kontribusi sektor tersebut terhadap PAD dan pembangunan daerah semakin meningkat.
“Harapannya tadi saya bilang, kita bisa optimalkan SDM mereka untuk meningkatkan pendapatan daerah,” pungkasnya. (ltf/fdl/adv)









