Di simpang jalan di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara, deru mesin kendaraan bersahutan, membentuk irama khas kota yang sibuk di pagi hari. Di tengah keriuhan itu, berdiri tegap seorang polisi perempuan. Tangannya terangkat, memberi isyarat. Lalu lintas yang sempat kusut perlahan menjadi tertib.
DITULIS OLEH: LATIF
IPDA Fabiola Umaida, perwira muda yang kini mengemban tugas sebagai Kepala Unit Keamanan dan Keselamatan Satuan Lalu Lintas Polres Kutai Kartanegara.
Usianya baru 23 tahun, namun langkahnya sudah mantap, seolah tahu betul ke mana arah hidupnya berjalan.
Di balik seragam cokelat yang dikenakannya, tersimpan cerita tentang keberanian meninggalkan rumah, tentang pilihan yang tidak semua orang berani ambil di usia muda.
Bagi Fabiola, menjadi polisi bukan sekadar profesi, itu adalah panggilan.
Ia adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 2024. Sejak awal, keinginannya tak pernah goyah. Ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk hadir di tengah masyarakat—bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom.
“Keinginan menjadi polisi murni datang dari diri sendiri, dengan dukungan penuh dari keluarga,” ujarnya kepada wartawan.
Lahir dan besar di Lampung, Fabiola memilih merantau jauh dari kampung halaman. Keputusan itu tidak mudah, tetapi dukungan keluarga membuat langkahnya terasa lebih pasti. Restu orang tua menjadi fondasi yang tak tergantikan.
Perjalanannya kemudian membawanya ke Kalimantan Timur, tanah yang awalnya asing, namun perlahan terasa seperti rumah. Kesan pertamanya sederhana, tapi membekas.
“Masyarakatnya ramah dan lingkungannya nyaman. Sehingga ketika akhirnya ditempatkan di sini, saya merasa bersyukur,” ucapnya.
Kariernya terbilang dinamis untuk ukuran perwira muda. Ia pernah mencicipi berbagai fungsi, mulai dari Samapta hingga Direktorat Reserse Kriminal Umum di Polda Kalimantan Timur. Setiap tempat menjadi ruang belajar dan pengalaman bagi dirinya.

Kini, di Satuan Lalu Lintas Polres Kutai Kartanegara, ia menghadapi tantangan yang berbeda. Wilayah yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta dinamika jalanan yang tak pernah sama setiap hari. Namun justru di situlah ia menemukan makna pengabdian.
Menjadi perantau di usia muda bukan tanpa cerita. Ada rindu yang sesekali datang diam-diam. Ada jarak yang tak bisa dipangkas begitu saja, tapi teknologi menjadi jembatan.
“Dengan adanya teknologi, komunikasi dengan keluarga tetap bisa terjaga dengan baik,” katanya.
Di luar tugas dinas, Fabiola juga aktif di media sosial. Bagi sebagian orang, itu hanya tempat berbagi. Namun baginya, itu adalah cara lain untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Ia sadar, setiap unggahan bukan sekadar konten, ada tanggung jawab di dalamnya.
“Dengan jumlah pengikut yang banyak, tentu ada tanggung jawab untuk menjaga sikap dan memberikan contoh yang baik,” ujarnya.
Di tengah sorot popularitas itu, ia memilih satu hal yang sederhana, dengan tetap menjadi diri sendiri. Baginya, keaslian adalah kunci untuk bertahan dan berkembang.
“Saya tetap menjadi diri sendiri, karena ketika kita mencoba menjadi orang lain, kita justru akan kehilangan karakter diri,” tuturnya.
Momentum Hari Kartini menjadi refleksi tersendiri baginya. Di tengah perubahan zaman, ia melihat perempuan kini memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk berkarya. Kesempatan terbuka luas bagi siapa pun yang ingin berkontribusi bagi bangsa.
“Perempuan tidak hanya terbatas pada peran tertentu, tetapi juga bisa berpartisipasi dalam pembangunan dan pengabdian kepada negara,” ucapnya
“Pesan saya untuk perempuan, tetap percaya diri dan kejar mimpi. Setiap orang berhak untuk meraih cita-citanya, terlepas dari latar belakang atau gender,” lanjutnya.
Di sela kesibukan, Fabiola tetap menjaga keseimbangan hidup dengan menjalani hobinya. Ia suka bermain basket, berinteraksi dengan masyarakat, dan mencari cara untuk tetap membumi di tengah tuntutan tugas. Namun di balik semua itu, ada satu sumber kekuatan yang menjadi bahan bakar utama untuk setiap Langkah yang dijalani.
“Motivasi terbesar saya adalah orang tua. Mereka selalu menjadi penguat dalam setiap langkah yang saya ambil,” tuturnya.
Sejak awal tidak ada yang berubah, dari merekalah ia belajar tentang tanggung jawab, tentang keberanian memilih jalan, dan tentang arti konsistensi dalam menjalani hidup.
Di jalanan Tenggarong yang terus bergerak, Fabiola berdiri sebagai bagian dari arus itu sendiri. Bukan hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga menapaki perjalanan hidupnya, satu langkah pasti yang penuh makna.
Editor: Faidil Adha







