KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Kasus dugaan pelecehan terhadap anak yang terjadi di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Tenggarong Seberang kini memasuki babak baru. Persidangan di Pengadilan Negeri Kutai Kartanegara (Kukar) telah sampai pada agenda pembacaan pleidoi atau nota pembelaan dari terdakwa dan penasihat hukumnya, pada Senin (02/02/2026).
Sebelumnya, dalam amar tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fitra Ira Purnawati, menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun tanpa disertai pidana denda. Selain itu, JPU juga tetap memintakan restitusi bagi para korban dengan total nilai mencapai sekitar Rp380 juta, sebagaimana tertuang dalam permohonan yang telah diajukan.
Ia menjelaskan, bahwa dalam pledoi yang disampaikan secara lisan, terdakwa mengakui perbuatannya, menyatakan penyesalan, serta memohon keringanan hukuman.
“Penasihat hukumnya juga menyampaikan permohonan serupa dengan alasan berlakunya KUHAP dan KUHP baru, di mana menurut mereka pidana penjara bukan satu-satunya bentuk hukuman,” ujarnya
Dalam pleidoi tersebut, penasihat hukum terdakwa juga mengemukakan alternatif pemidanaan lain, seperti kerja sosial, rehabilitasi, hingga tindakan medis. Alasan tersebut didasarkan pada anggapan bahwa terdakwa memiliki kelainan orientasi seksual.
Namun demikian, JPU menegaskan bahwa seluruh dalil pembelaan tersebut akan dibantah dalam agenda replik yang dijadwalkan pada sidang Kamis mendatang.
“Kami akan menanggapi seluruh poin dalam pleidoi itu. Keterangan dokter ahli kejiwaan telah menyatakan secara jelas bahwa kondisi terdakwa bukan merupakan alasan pemaaf maupun pembenar atas perbuatannya,” tegasnya
Ia menjelaskan, bantahan yang disiapkan JPU akan menguraikan secara lengkap keterangan ahli kejiwaan yang telah disampaikan sebelumnya di persidangan. Menurutnya, kondisi kesehatan terdakwa tidak dapat dijadikan dasar untuk menghapus maupun meringankan pertanggungjawaban pidana.
Dalam kesimpulan pleidoi, penasihat hukum terdakwa menyampaikan sejumlah pertimbangan permohonan keringanan, antara lain terdakwa menyesali dan mengakui perbuatannya, belum pernah dihukum sebelumnya, bersikap sopan selama persidangan, serta melalui keluarga telah menyampaikan permohonan maaf kepada para korban. Terdakwa juga menyatakan keinginannya untuk menjalani pengobatan dan berharap dapat memperbaiki masa depannya.
Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Asraudin, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyampaikan seluruh pembelaan dan kini menunggu tanggapan dari JPU.
“Kami sudah membacakan pleidoi, selanjutnya tinggal menunggu replik dari jaksa pada hari Kamis,” pungkasnya. (ltf/fdl)









