KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Rencana pembangunan lanjutan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Tenggarong hingga kini masih tertunda. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan proyek tersebut belum dapat dilanjutkan pada tahun ini.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti, menjelaskan bahwa kondisi lapas saat ini mengalami overkapasitas, dengan jumlah penghuni jauh melebihi daya tampung ideal.
“Dari sisi kapasitas, sebenarnya hanya menampung 135 orang, namun saat ini dihuni sekitar 359 warga binaan, sehingga mengalami overkapasitas,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa lapas yang dipimpinnya merupakan satu-satunya lapas perempuan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Saat ini, jumlah warga binaan perempuan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara tercatat cukup tinggi, sehingga kapasitas yang tersedia belum mampu menampung seluruhnya secara optimal.
“Saat ini jumlah warga binaan perempuan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mencapai sekitar 1.000 orang, sehingga sebagian masih ditempatkan di lapas laki-laki karena keterbatasan kapasitas,” jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai belum ideal, terutama dalam hal pembinaan yang seharusnya dilakukan secara lebih maksimal dan terfokus.
Ia mengungkapkan bahwa pembangunan lapas tersebut sebelumnya telah dimulai pada tahap awal dengan anggaran yang cukup signifikan.
“Untuk tahap lanjutan sebenarnya sudah diajukan sebagai program prioritas, namun tertunda karena adanya efisiensi anggaran,” ujarnya.
Pihaknya telah mengusulkan kelanjutan pembangunan tersebut kepada instansi terkait. Hal itu dilakukan mengingat kebutuhan fasilitas yang semakin mendesak.
“Kami kembali mengajukan pembangunan tersebut dan berdasarkan perhitungan Dinas PU, dibutuhkan anggaran sekitar Rp20 miliar untuk menyelesaikan seluruh bangunan, termasuk blok hunian, tembok keliling, dan rumah dinas,” jelasnya.
Namun demikian, harapan untuk melanjutkan pembangunan pada tahun ini tampaknya masih belum dapat terealisasi. Pihaknya pun menaruh harapan besar agar proyek tersebut dapat masuk dalam prioritas pembangunan di tahun mendatang.
Di tengah keterbatasan tersebut, Riva menekankan adanya kebutuhan mendesak yang perlu segera ditangani demi keselamatan dan keamanan lingkungan sekitar lapas.
“Untuk kebutuhan mendesak, yang bisa dibantu saat ini adalah perbaikan tembok keliling lapas yang kondisinya sudah miring dan cukup mengkhawatirkan, terutama bagi lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Jika pembangunan dapat dilanjutkan, lapas tersebut direncanakan akan memiliki kapasitas yang jauh lebih memadai dibandingkan kondisi saat ini.
“Jika pembangunan dilanjutkan, nantinya akan ada sekitar 20 kamar hunian dengan kapasitas hingga 700 warga binaan,” katanya.
Dengan adanya penambahan kapasitas yang direncanakan, diharapkan seluruh warga binaan perempuan dapat ditempatkan secara lebih layak dan manusiawi.
Selain fasilitas fisik, kebutuhan sumber daya manusia juga menjadi perhatian penting dalam mendukung operasional lapas ke depan.
“Kami juga berharap ke depan ada penambahan petugas pemasyarakatan, sehingga aspek keamanan dan pembinaan dapat berjalan lebih maksimal,” katanya.
Menurutnya, keberadaan petugas yang memadai akan sangat berpengaruh terhadap kualitas program pembinaan yang diberikan kepada warga binaan.
“Dengan dukungan fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai, program pembinaan bisa lebih variatif dan mampu mencetak warga binaan yang siap kembali ke masyarakat,” pungkasnya. (ltf/fdl)









